Investor Asing Borong Saham BUMI di Tengah Transformasi Tambang
Investor asing gencar memburu saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dalam dua pekan terakhir perdagangan Bursa Efek Indonesia hingga Jumat (12/6/2026). Aksi beli bersih ini terjadi di tengah langkah perseroan mematangkan sejumlah proyek strategis untuk bertransformasi menjadi perusahaan tambang multi-platform non-batu bara.
Data RTI Infokom yang dilansir Investor.id menunjukkan, saham emiten milik Grup Bakrie dan Salim ini melonjak 12,14 persen ke posisi Rp157 per lembar pada perdagangan Jumat (12/6/2026). Sepanjang periode 8 hingga 12 Juni 2026, nilai beli bersih investor asing mencapai Rp40,71 miliar dengan pertumbuhan harga saham sebesar 12,95 persen.
Aktivitas pengumpulan saham oleh investor asing juga telah berlangsung pada pekan sebelumnya, yakni periode 2 hingga 5 Juni 2026, dengan catatan beli bersih mencapai Rp266,64 miliar. Kondisi tersebut membalikkan tren pada akhir Mei 2026, ketika asing melakukan aksi jual bersih senilai Rp219,64 miar saat harga saham BUMI sempat merosot.
Minat pasar terhadap saham BUMI terdorong oleh kemajuan proyek non-batu bara yang mulai memasuki fase matang, seperti proyek Wolfram Limited di Australia yang membukukan kontrak penjualan tujuh tahun dengan Glencore. Selain itu, anak usaha BUMI yang bergerak di sektor emas, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), terus meningkatkan kapasitas produksi melalui pengembangan kawasan tambang PT Citra Palu Mineral.
Analis Panin Sekuritas, Cliff Nathaniel menilai keberadaan kontrak tersebut memberi visibilitas lebih baik terhadap prospek pendapatan proyek.
"Ini penting karena BUMI tidak hanya masuk aset non-coal, tetapi sudah memiliki jalur pemasaran jelas untuk output produksinya," tegas Cliff.
BUMI juga memegang eksposur di Jubilee Metals Limited yang ditargetkan berproduksi pada kuartal IV/2026 serta menargetkan akuisisi 45 persen saham PT Laman Mining selesai pada Agustus 2026.
"Bisnis batu baranya masih kuat, efisiensi operasional membaik, sementara aset non-coal mulai masuk fase konkret. Jika Wolfram, JML, dan Laman Mining mulai berkontribusi signifikan, target EBITDA 50:50 bisa saja tercapai lebih cepat," urai Cliff.
Di sisi lain, pendapatan bisnis batu bara BUMI pada kuartal I/2026 naik 19,7 persen menjadi USD417,7 juta, yang mendorong laba bersih tumbuh 36,6 persen menjadi USD41,1 juta. Cliff menambahkan bahwa pelemahan mata uang rupiah dapat memberikan keuntungan alami bagi emiten dengan pendapatan berbasis dolar Amerika Serikat seperti BUMI.
"Untuk emiten dengan earnings USD, pelemahan rupiah bisa menjadi natural hedge ketika ada kewajiban rupiah. Kalau arus kas USD BUMI tetap kuat, kemampuan perseroan memenuhi kewajiban rupiah berpotensi lebih terjaga," ujar Cliff.
Hingga akhir Mei 2026, struktur pemegang saham BUMI mencatat pertumbuhan jumlah investor sebesar 11.298 pihak menjadi total 590.547 pemegang saham. Porsi saham free float perseroan juga melebar menjadi 43,06 persen, dengan posisi penerima manfaat akhir perusahaan yang tetap dipegang oleh Nirwan Dermawan Bakrie dan Anthony Salim.