Binar dan Microsoft Gelar Garuda AI Impact Summit 2026 Guna Dorong Adopsi AI
Pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) di Indonesia kini mengalami perkembangan yang sangat masif. Integrasi kecerdasan buatan ini sudah merambah ke berbagai sektor strategis, termasuk layanan publik, dunia pendidikan, industri keuangan, energi, hingga sektor usaha mikro dan makro.
Seperti dilansir dari Detik iNET, pertumbuhan teknologi yang cepat ini membawa tantangan besar terkait aspek keamanan. Penggunaan AI dituntut harus bertanggung jawab serta mampu menghadirkan manfaat yang nyata bagi seluruh lapisan masyarakat.
Persoalan regulasi dan tata kelola tersebut menjadi fokus pembahasan utama dalam forum Garuda AI Impact Summit 2026 yang berlangsung di Jakarta. Acara kolaborasi antara Binar dan Microsoft ini mempertemukan unsur pemerintah, pelaku industri, akademisi, serta komunitas teknologi.
Pertemuan ini merupakan puncak dari program akselerasi talenta AI nasional yang telah berjalan selama satu tahun. Program tersebut berhasil menyalurkan beasiswa pelatihan AI kepada sekitar 145.000 peserta, termasuk para Aparatur Sipil Negara (ASN) dari berbagai wilayah.
Sebelumnya, rangkaian Regional AI Impact Summit juga telah dilaksanakan di lima wilayah Indonesia. Agenda tersebut bertujuan memetakan kesiapan sumber daya manusia, peluang implementasi, serta kendala adopsi AI di lapangan.
Founder dan CEO Binar, Alamanda Shantika, menilai bahwa transformasi kecerdasan buatan tidak boleh hanya berhenti pada tahap pengenalan alat atau perangkat lunak semata. Kesiapan ekosistem dan manusia menjadi kunci utama keberhasilan adopsi teknologi ini.
"AI transformation tidak cukup hanya dimulai dari pengenalan tools. Yang lebih penting adalah bagaimana manusia, organisasi, dan ekosistemnya siap menggunakan AI untuk menyelesaikan masalah nyata. Melalui Garuda AI Impact Summit 2026, kami ingin membawa pembelajaran dari program skilling, regional summit, dan diskusi lintas sektor menjadi dorongan kolaborasi yang lebih strategis bagi masa depan AI Indonesia," ujar Alamanda.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria memberikan penegasan mengenai pentingnya aspek pemerataan akses. Beliau menyatakan bahwa pemanfaatan AI wajib menjangkau seluruh elemen masyarakat tanpa terkecuali.
"AI tidak boleh hanya dimanfaatkan oleh segelintir pihak yang memiliki akses dan kemampuan teknologi. Manfaat AI harus dapat dirasakan oleh pelajar, guru, pelaku UMKM, aparatur pemerintah, komunitas lokal, hingga masyarakat umum di seluruh Nusantara," kata Nezar.
Nezar Patria juga menambahkan bahwa indikator keberhasilan transformasi teknologi ini tidak diukur dari kecepatan adopsi. Dampak positif yang dirasakan masyarakat luas menjadi parameter utama keberhasilan tersebut.
Dari perspektif pelaku industri global, AI Skills Director Microsoft Asia, Caroline McGrath, menyoroti pentingnya sinergi multipihak. Implementasi AI yang aman memerlukan landasan tata kelola yang kuat serta kepercayaan dari publik.
"Responsible AI bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga tata kelola, kepercayaan, dan kesiapan sumber daya manusia. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk memastikan manfaat AI dapat dirasakan secara luas," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno mengingatkan agar faktor manusia tetap menjadi pusat perkembangan teknologi. Menurut beliau, kecerdasan buatan berfungsi sebagai alat bantu penunjang produktivitas manusia.
"AI tidak menggantikan manusia, melainkan alat yang dapat memperkuat kapasitas manusia. Karena itu, yang terpenting bukan hanya kemampuan menggunakan AI, tetapi juga bijak dalam menentukan batasannya dan cerdas dalam memaksimalkan manfaatnya," kata Pratikno.
Meskipun memiliki potensi besar, forum ini mencatat sejumlah kendala krusial yang masih dihadapi Indonesia. Persoalan tersebut meliputi ketimpangan literasi digital antarwilayah, kesiapan institusi, perlindungan data pribadi, keamanan siber, serta minimnya jumlah talenta digital berkualitas.
Melalui berbagai sesi diskusi, perhelatan ini akhirnya melahirkan beberapa poin rekomendasi kebijakan untuk pemerintah. Rumusan tersebut diharapkan mampu mempercepat pembangunan ekosistem kecerdasan buatan yang sehat di tanah air.
Poin rekomendasi tersebut mencakup program peningkatan literasi AI regional, penguatan regulasi etika, percepatan pelatihan talenta digital, penguatan keamanan siber, serta perluasan kolaborasi strategis lintas sektor.