Presiden Prabowo Subianto Gugat Paradoks Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Share

Pidato Presiden Prabowo Subianto pada Peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026, memuat otokritik tajam serta manifesto arah baru pembangunan nasional. Seperti dikutip dari Detik Finance, kepala negara menggugat ketimpangan perekonomian yang terjadi selama beberapa dekade terakhir.

"Apakah pertumbuhan itu sudah merata, sudah dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia secara adil?" tanya Presiden Prabowo Subianto.

Pertanyaan retoris tersebut mendorong reorientasi radikal untuk mengembalikan kompas pembangunan pada rel Ekonomi Pancasila. Langkah nyata perwujudan keadilan sosial ini ditempuh melalui integrasi pembangunan fisik dan keadilan spasial guna menghilangkan hambatan geografi.

Visi besar ini melahirkan lembaga baru bernama Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Melalui kementerian ini, pemerintah menegaskan peran sebagai penggerak pembangunan wilayah yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi semata.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menerjemahkan konsep makro tersebut melalui semangat "Infrastruktur untuk Semua" (No One Left Behind). Menko AHY mengorkestrasi lima kementerian teknis, yaitu Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, serta Kementerian Transmigrasi.

Pembangunan infrastruktur di era Presiden Prabowo tidak lagi direduksi sebatas pembangunan fisik bendungan, jembatan, atau jalan aspal. Proyek fisik kini bertransformasi menjadi fondasi kesejahteraan dan pertumbuhan masyarakat guna mengurangi ketimpangan.

Strategi pembangunan infrastruktur saat ini bertumpu pada tiga pilar utama, yakni irigasi, jalan daerah, dan sekolah rakyat. Pilar pertama berfokus pada swasembada pangan melalui Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 yang menugaskan Kementerian PU mempercepat peningkatan dan rehabilitasi jaringan pengairan dari primer hingga tersier.

Pilar kedua berjalan lewat Instruksi Presiden Nomor 11 Tahun 2025 tentang Percepatan Peningkatan Konektivitas Jalan Daerah untuk Mendukung Swasembada Pangan dan Energi. Kementerian PU mengintervensi perbaikan ruas jalan daerah yang menghubungkan sentra produksi menuju pusat industri.

"Melalui sinergi pusat dan daerah, kami ingin memastikan setiap kilometer jalan yang dibangun memberikan dampak langsung bagi masyarakat, baik melalui peningkatan akses ekonomi, efisiensi logistik, maupun penciptaan lapangan kerja baru," tutur Menteri PU, Dody Hanggodo.

Pilar ketiga diwujudkan lewat pembangunan Sekolah Rakyat yang ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem. Pada tahap kedua, fasilitas pendidikan permanen ini dibangun serentak di 93 kabupaten/kotamadya di seluruh Indonesia dengan daya tampung sekitar 1.000 siswa per sekolah.

Suntikan Nyawa Konektivitas dan Integrasi Kewilayahan

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengambil peran vital untuk menyuntikkan nyawa konektivitas multimoda di seluruh akses jalan yang telah dibuka oleh Kementerian PU. Menko AHY mendorong Kemenhub memperbesar peran perkeretaapian sebagai moda logistik massal yang murah dan efisien.

Pembangunan jaringan rel dan kereta cepat diarahkan agar tidak lagi Jawa-sentris, melainkan merambah ke Kalimantan, Sumatera, hingga Sulawesi. Selain itu, cara pandang terhadap bandara diubah total sebagai gerbang depan yang mencerminkan martabat bangsa.

Kelancaran pembangunan ini disinkronisasi di hulu oleh Kementerian ATR/BPN melalui jaminan kepastian hukum tanah yang adil serta tata ruang yang matang. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya konflik agraria di masyarakat.

Pengelolaan Megaproyek Menjadi Kutub Pertumbuhan

Tantangan besar integrasi kewilayahan ini terlihat dengan terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 29 Tahun 2026. Melalui regulasi ini, Presiden Prabowo resmi menunjuk Menko AHY sebagai Ketua Komite Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), menggantikan posisi Luhut Binsar Pandjaitan.

Penunjukan ini menegaskan bahwa pengelolaan megaproyek seperti kereta cepat Whoosh tidak boleh sekadar mengejar keuntungan komersial. Stasiun KCJB diposisikan sebagai kutub aktif yang memancarkan pertumbuhan ekonomi ke wilayah sekitarnya.

Komite ini mengawinkan aspek mobilitas tinggi dengan penataan ruang koridor wilayah serta aksesibilitas jalan penunjang. Stasiun kereta cepat dirancang menjadi magnet pertumbuhan yang menghidupkan pelaku UMKM, menyerap tenaga kerja lokal, dan terintegrasi dengan transportasi publik.

Presiden Prabowo dalam bukunya Paradoks Indonesia (2017) menegaskan bahwa pemerintah harus proaktif serta menjadi pelopor dalam pembangunan, pertanian, penyediaan prasarana, penciptaan lapangan kerja, hingga pengurangan kemiskinan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author