Weston McKennie Siap Starter Hadapi Paraguay di Piala Dunia 2026
Gelandang tim nasional pria Amerika Serikat Weston McKennie dipastikan masuk dalam daftar susunan pemain awal untuk menghadapi Paraguay pada pertandingan pembuka Grup D Piala Dunia 2026 di Los Angeles Stadium, Jumat malam, 12 Juni 2026.
Pemain Juventus berusia 27 tahun tersebut berhasil menembus skuad utama setelah menjalani transformasi fisik yang signifikan sejak musim panas lalu demi menjaga kebugaran dan fokusnya di atas lapangan hijau.
Mantan pelatihnya di Juventus, Igor Tudor, sempat memperingatkan McKennie mengenai pentingnya memotong berat badan agar mampu bersaing di level tertinggi pada usia puncaknya.
“I had a long preseason, my coach back at Juventus really put pressure on me and said, ‘Hey, you‘re getting older, and your body is not going to be able to bounce back from games the way you used to be able to. You need to cut down some weight, and that‘s the only way you‘re going to be involved in this team'.” kata Weston McKennie, Gelandang Tim Nasional Amerika Serikat.
McKennie kemudian mengubah pola makan, mengurangi camilan, dan meningkatkan intensitas latihan lari untuk memangkas berat badannya demi mendapatkan tempat di tim.
“I put my head down, worked like I usually do, got on a diet, don‘t snack as much as I used to anymore… I work out more often… a lot of running.” ujar Weston McKennie, Gelandang Tim Nasional Amerika Serikat.
Penurunan berat badan tersebut membuat sang gelandang merasa jauh lebih percaya diri dengan kondisi fisiknya saat ini.
“This summer was the first summer I didn’t mind taking my shirt off at the pool!” tutur Weston McKennie, Gelandang Tim Nasional Amerika Serikat.
McKennie juga mengungkapkan kepada Sports Illustrated bahwa kemitraannya dengan Vita Coco sangat membantu proses pemulihan selama sesi latihan berat di tengah cuaca panas.
“During preseason this year, we had a huge meeting about the recovery process and making sure that we are up to par with every training session… we run like five, six, seven, eight kilometers every other day in training.” ucap Weston McKennie, Gelandang Tim Nasional Amerika Serikat.
Dirinya menggunakan jaket penahan angin dan krim keringat untuk membakar kalori sembari mengonsumsi minuman tersebut demi menjaga hidrasi tubuhnya.
“Vita Coco has so many different aspects that help with that whole process, especially in recovery. I trained a lot in the heat. I used sweat cream, a hoodie, a jacket, everything to sweat out and help lose weight.” tambah Weston McKennie, Gelandang Tim Nasional Amerika Serikat.
Langkah itu diambil agar cairan yang masuk tidak kembali menambah bobot tubuhnya setelah sesi latihan yang melelahkan.
“This summer I lost probably eight kilos (17.6 pounds) while drinking Vita Coco at the same time because I don’t want to put so many fluids into my body that put weight back on, so I try to replenish myself and give my body the best chance to cut that weight, stay hydrated and on par with training sessions that I do.” jelas Weston McKennie, Gelandang Tim Nasional Amerika Serikat.
Kerja sama ini diakuinya berdampak positif karena yayasan sosial miliknya juga mendapatkan dukungan dari jenama tersebut.
“It’s a big help for me … the partnership was also good because they play a big part in me and my foundation.” ungkap Weston McKennie, Gelandang Tim Nasional Amerika Serikat.
Mantan penjaga gawang tim nasional Amerika Serikat, Brad Friedel, mengingatkan McKennie melalui talkSPORT agar mempertahankan fokus dan kebugarannya di tengah potensi gangguan yang tinggi selama turnamen berlangsung.
"We haven't had the golden generation yet because we don't have the best athletes in the country," tutur Brad Friedel, Mantan Penjaga Gawang Amerika Serikat.
Friedel menilai komposisi skuad asuhan Mauricio Pochettino saat ini memiliki kemiripan kualitas dengan generasi tim nasional pada Piala Dunia tahun 2002 dan 1998.
"It's a very similar batch that we had in 2002, a very similar batch to what we had in 98. You could argue that Eric Wynalda is one of our best strikers and better than or as good as Folarin Balogun and Ricardo Pepi." kata Brad Friedel, Mantan Penjaga Gawang Amerika Serikat.
Menurutnya, beberapa posisi seperti bek tengah diisi oleh pemain potensial seperti Chris Richards, sementara Antonee Robinson menjadi bek kiri terbaik yang pernah dimiliki negara tersebut.
"Tab Ramos is still, in my opinion, probably the best US player ever to play the game." kata Brad Friedel, Mantan Penjaga Gawang Amerika Serikat.
Ia juga mempertanyakan perbandingan antara Tyler Adams dan Jermaine Jones, sembari melihat potensi dampak yang bisa diberikan oleh Tim Weah serta Haji Wright.
"But then Eddie Pope and Chris Richards. Eddie Pope was probably the best centre-back, but Chris Richards could prove that he's the best in this World Cup. Antonee Robinson is definitely the best left-back we've ever had in the US national team." ucap Brad Friedel, Mantan Penjaga Gawang Amerika Serikat.
Meskipun demikian, Friedel menegaskan bahwa McKennie merupakan pesepak bola menyeluruh terbaik yang dimiliki oleh skuad Amerika Serikat saat ini setelah membuktikannya di Juventus.
"But then Tyler Adams, is he better than Jermaine Jones? Probably, I don't know. Probably. Maybe, maybe not, but it's a bit similar." tambah Brad Friedel, Mantan Penjaga Gawang Amerika Serikat.
Ia menyoroti performa buruk sang pemain saat dipinjamkan ke Leeds United dan meminta sang gelandang mengontrol kebiasasannya di luar lapangan.
"Tim Weah, whether he comes off the bench or whether he starts, could have an impact. Haji Wright could have an impact." ujar Brad Friedel, Mantan Penjaga Gawang Amerika Serikat.
Friedel menutup penilaiannya dengan menekankan pentingnya konsentrasi penuh bagi sang pemain sepanjang kompetisi akbar ini.
"Weston McKennie, I think is currently the best all-round footballer that we have in the team now." sebut Brad Friedel, Mantan Penjaga Gawang Amerika Serikat.
Fakta mengenai performa apik McKennie di Juventus yang mencetak sembilan gol dan delapan asis dari 48 laga menjadi modal besar bagi tim nasional.
"Weston McKennie didn't show it when he was at Leeds, but he has at Juventus." kata Brad Friedel, Mantan Penjaga Gawang Amerika Serikat.
Karier sepak bola McKennie bermula dari masa kecilnya di Texas Utara, setelah sempat tinggal di Jerman dan bertemu langsung dengan legenda sepak bola Landon Donovan.
"Weston's issue is being focused and being fit, and because he likes to burn the candle at both ends. So it's important that he's fully focused." pungkas Brad Friedel, Mantan Penjaga Gawang Amerika Serikat.
Ibunya, Tina McKennie, mengenang momen krusial saat putranya menyatakan keinginan kuat untuk membela tim nasional setelah sepatu bolanya ditandatangani oleh Donovan.
"He said, ‘Mom, I want to play on that team one day’," cerita Tina McKennie, Ibu Weston McKennie.
Tina langsung memberikan dukungan penuh atas impian besar putranya tersebut sejak masa kanak-kanak.
"And I said, you will." balas Tina McKennie, Ibu Weston McKennie.
Bakat McKennie kemudian diasah oleh pelatih lokal Alphonse "Al" Ngon sebelum akhirnya masuk ke dalam radar pencari bakat FC Dallas Academy.
"If I see a kid like this, I have this kind of passion," ujar Alphonse Ngon, Mantan Pelatih Weston McKennie.
Ngon mengaku memiliki komitmen besar untuk membantu talenta muda seperti McKennie mencapai potensi maksimal mereka.
"I want to make sure that he gets to where he wants to be." kata Alphonse Ngon, Mantan Pelatih Weston McKennie.
Pelatih FC Dallas Academy, Jesse Suarez dan Francisco Molina, kemudian menguji kemampuan McKennie dengan memainkannya melawan kelompok umur yang lebih tua.
"Everyone in North Texas kept telling me, you know, to see this kid," kenang Jesse Suarez, Pelatih FC Dallas Academy.
Molina langsung meminta agar McKennie dimasukkan ke dalam tim asuhannya setelah melihat dominasi sang pemain di lapangan.
"this kid needs to play for me." cetus Francisco Molina, Pelatih FC Dallas Academy.
Pada usia 14 tahun, McKennie berhasil mencetak empat gol dalam laga uji coba internal yang dipantau langsung oleh tim pemandu bakat nasional Amerika Serikat.
"I was just lucky to be chosen to come out here and play against older kids, and it's going to help me out in the long run," kata Weston McKennie saat berusia 14 tahun.
Meski sempat dicoret dari skuad Piala Dunia U-17 pada tahun 2015 yang membuatnya terpuruk, dukungan dari pelatih akademi membantunya bangkit kembali.
"I saw a kid that was broken," ungkap Tina McKennie, Ibu Weston McKennie.
Tina melihat perubahan sikap putranya yang tidak lagi ceria seperti biasanya setelah pencoretan tersebut.
"He wasn't acting like himself." tambah Tina McKennie, Ibu Weston McKennie.
Jesse Suarez mengingat bagaimana McKennie menghabiskan waktu berjam-jam menendang bola ke dinding fasilitas latihan demi mengembalikan kepercayaan dirinya.
"Every practice, he will always be the guy that will ask, you know, to keep the soccer balls," kata Jesse Suarez, Pelatih FC Dallas Academy.
Latihan mandiri tersebut dilakukan secara konsisten oleh sang pemain setelah sesi latihan tim berakhir.
"Just kicking the ball into the wall. That would go on for hours." kenang Jesse Suarez, Pelatih FC Dallas Academy.
Kini, perjuangan McKennie membuahkan hasil dengan kepastian tempat utama di tim nasional senior Amerika Serikat untuk Piala Dunia 2026.
"This is like a dream come true. I believe in him a lot," cetak Alphonse Ngon, Mantan Pelatih Weston McKennie.
Keberhasilan anak didiknya menembus panggung dunia memberikan kepuasan tersendiri bagi para pelatih yang mendidiknya sejak awal karier.
"Our career as developers, it makes it worthwhile," tutur Francisco Molina, Pelatih FC Dallas Academy.
Di sisi lain, keputusan mengejutkan diambil oleh manajer Mauricio Pochettino yang tidak memberikan ban kapten kepada Christian Pulisic, melainkan kepada bek veteran berusia 38 tahun, Tim Ream.
“I am so grateful that he is with us because he has been a great captain, not only on the field but, more importantly, off it. He has the experience and the qualities to be the leader we want, a positive leader who sets the example and reflects our values both on and off the field.” kata Mauricio Pochettino, Manajer Tim Nasional Amerika Serikat.
Tim Ream yang saat ini membela Charlotte FC mengaku sangat terhormat atas penunjukan dirinya memimpin tim di turnamen ini.
“Wow. I am not sure what to say. Thank you. Yeah, this is more than a dream come true.” respons Tim Ream, Kapten Tim Nasional Amerika Serikat.
Pemain yang telah mencatatkan 82 penampilan bersama tim nasional tersebut menegaskan tanggung jawab ini tidak akan mengubah karakter bermainnya.
“At the same time, it’s not going to change what I do, or who I am, and how I help the group. Thank you. It’s the highest honor for me, with this group and for the World Cup, and I’m not going to take that for granted.” kata Tim Ream, Kapten Tim Nasional Amerika Serikat.
Pertandingan pembuka ini juga menjadi momen bersejarah bagi bek muda Alex Freeman asal Broward County yang bersiap melakukan debutnya di panggung Piala Dunia bersama skuad Amerika Serikat.