Donald Trump Klaim Kesepakatan Damai AS dan Iran Segera Tercapai

Share

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dengan Iran sudah dekat setelah pembatalan serangan terhadap negara tersebut. Pernyataan ini disampaikan di Ruang Oval Gedung Putih pada Kamis waktu setempat, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

"Kami baru saja membuat penyelesaian besar atas perang dengan Iran," kata Donald Trump, Presiden AS.

Ketegangan meluas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran pada 28 Februari 2026 yang dibalas dengan penutupan Selat Hormuz. Pernyataan terbaru dari pemimpin Amerika Serikat tersebut langsung memicu penurunan harga minyak Brent sebesar 4,4 persen menjadi sekitar US$89 per barel.

"Kami memiliki kesepakatan bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, yang memang menjadi tujuan utama dari semua yang harus kami lalui untuk mencapainya. Jadi ini hal yang sangat besar," ujar Donald Trump, Presiden AS.

Proses finalisasi dokumen tersebut terus berjalan dan penandatanganan direncanakan berlangsung di wilayah Eropa. Hubungan bilateral kedua negara sempat memanas akibat insiden jatuhnya helikopter Apache milik Amerika Serikat di kawasan Teluk.

"mungkin akan dilakukan di Eropa" tambah Donald Trump, Presiden AS.

Dokumen perjanjian pemulihan hubungan tersebut saat ini dilaporkan sudah berada dalam tahapan penyusunan akhir. Dampak positif dari penandatanganan ini diharapkan dapat segera memulihkan jalur distribusi perdagangan internasional di Timur Tengah.

"segera setelah kesepakatan ditandatangani" kata Donald Trump, Presiden AS.

Pemimpin Amerika Serikat itu mengaku sudah berkomunikasi dengan para sekutu di kawasan Timur Tengah, termasuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Langkah diplomasi ini diklaim mendapatkan respons positif dari berbagai pihak regional.

"Seluruh Timur Tengah sangat senang." ujar Donald Trump, Presiden AS.

Sebelumnya situasi sempat memanas lantaran adanya ancaman serangan militer terhadap fasilitas vital pengolahan energi. Target yang diincar mencakup wilayah utara Teluk yang menjadi pusat distribusi komoditas energi ekspor.

"AS akan menghantam Iran dengan sangat keras malam ini" kata Donald Trump, Presiden AS.

Amerika Serikat juga sempat menyatakan rencana untuk mengambil alih kendali komoditas minyak global. Langkah tersebut direncanakan mengikuti pola kebijakan yang pernah diterapkan pada negara sekutu lainnya di masa lalu.

"menguasai penuh" tulis Donald Trump, Presiden AS.

Di pihak lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyatakan laporan mengenai kesepakatan tersebut masih bersifat spekulatif. Teheran menegaskan bahwa belum ada keputusan final yang disepakati oleh kedua belah pihak.

"spekulatif" kata Esmail Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Pihak Teheran menyatakan draf nota kesepahaman sebenarnya sudah hampir selesai dibahas. Namun proses tersebut terhambat karena adanya penambahan klausul baru dari pihak Washington yang dinilai melewati batas negosiasi.

"belum ada yang disepakati secara final" kata Esmail Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Pemerintah Iran berkomitmen mempertahankan posisi tawar mereka dalam perundingan internasional ini. Langkah penambahan tuntutan dari Amerika Serikat dinilai menyulitkan tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat.

"difinalisasi" kata Esmail Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Teheran juga menolak keras penambahan poin-poin baru yang diajukan dalam draf perjanjian. Pemerintah Iran memastikan tidak akan melonggarkan prinsip-prinsip utama yang telah ditetapkan oleh negara.

"tuntutan berlebihan" kata Esmail Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Negosiasi ini berjalan alot karena dinamika politik kedua negara yang terus berubah. Pihak Kementerian Luar Negeri Iran mengingatkan agar Amerika Serikat tidak memaksakan kehendak dalam klausul baru.

"permintaan baru" kata Esmail Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Teheran memastikan posisi mereka tetap kokoh dalam melindungi kepentingan nasional dari intervensi asing. Pembicaraan mengenai pembatasan militer harus menghormati kedaulatan wilayah Iran.

"menyimenyimpang dari garis merahnya" tegas Esmail Baghaei, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya tidak terlibat dalam nota kesepahaman tersebut. Namun Israel mengapresiasi poin-poin pembatasan yang diajukan Amerika Serikat kepada Iran.

"bukan pihak dalam nota kesepahaman" tegas Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.

Pembatasan tersebut mencakup penghentian dukungan terhadap kelompok proksi di kawasan Timur Tengah. Isu ini menjadi salah satu syarat krusial yang didorong oleh Israel dalam kesepakatan akhir.

"penghapusan material yang diperkaya, pembantasan infrastruktur pengayaan, pembatasan produksi misil, serta penghentian dukungan Iran terhadap kelompok proksi teroris di kawasan." kata Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.

Merespons ancaman terhadap infrastruktur minyak mereka di Pulau Kharg, militer Iran mengeluarkan peringatan balasan yang keras. Mereka mengancam akan melumpuhkan total ekspor energi di kawasan Teluk.

"lebih keras dari sebelumnya" ancam Militer Iran.

Pernyataan militer tersebut menegaskan bahwa stabilitas keamanan di Teluk bersifat mutlak untuk semua negara. Jika infrastruktur Iran diserang, pasokan minyak global akan dihentikan sepenuhnya.

"Dengan mempertimbangkan ancaman terbaru AS terhadap infrastruktur minyak Iran, maka ekspor minyak dan gas adalah untuk semua orang atau tidak akan tersedia bagi siapa pun," bunyi pernyataan Militer Iran.

Negosiaton utama Iran Mohammad Bagher Ghalibaf turut memperingatkan dampak jangka panjang dari agresi militer Amerika Serikat. Ia menilai tindakan impulsif hanya akan merugikan posisi Washington.

"strategi yang keliru dan keputusan impulsif akan menciptakan rawa tak berujung yang akan menjebak kalian selama bertahun-tahun." tambah Mohammad Bagher Ghalibaf, Negosiaton Utama Iran.

Eskalasi militer ini memicu keprihatinan mendalam dari dunia internasional termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Gelombang serangan balasan dilaporkan sempat berdampak pada wilayah Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

"sangat prihatin atas eskalasi yang terus berlanjut di Timur Tengah." kata Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB António Guterres.

PBB mendesak seluruh pihak yang terlibat konflik untuk menahan diri dan mematuhi kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati pada April 2026. Desakan serupa juga disampaikan oleh Pakistan, Rusia, China, Turki, India, dan Arab Saudi.

"Dia mendesak semua pihak untuk kembali pada implementasi penuh gencatan senjata dan menghindari memburuknya situasi lebih lanjut," tambah Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB António Guterres.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author