PT Timah Jajaki Kerja Sama Peningkatan Cadangan dengan Yunnan Tin

Share

PT Timah (Persero) Tbk atau TINS tengah menjajaki kerja sama strategis untuk meningkatkan sumber daya dan cadangan mineral bersama perusahaan raksasa asal China, Yunnan Tin Co. Ltd., pada Jumat (12/6/2026).

Langkah ini diambil guna mendorong posisi perseroan di pasar global mengingat Yunnan Tin menguasai sekitar 50 persen pangsa pasar timah dunia, sedangkan TINS memiliki porsi sekitar 13 hingga 15 persen.

Penjajakan ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan yang telah ditandatangani kedua belah pihak sejak Agustus 2024 lalu terkait pertambangan, smelter, teknologi, hingga pengembangan produk hilir, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.

Direktur Produksi dan Komersial TINS Ilhamsyah Mahendra menjelaskan bahwa perwakilan Yunnan Tin telah mendatangi fasilitas tambang dan smelter perseroan di Bangka Belitung, dan kini pihak TINS tengah mengkaji kunjungan balasan.

"Kita masih kaji terus, rencana dalam tahun ini kita juga visit ke Yunnan Tin untuk lihat lebih detail teknologi apa saja yang kira-kira kita bisa adopt," kata Ilhamsyah Mahendra, Direktur Produksi dan Komersial TINS.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi ini nantinya fokus pada pertukaran pengetahuan yang menunjang efisiensi operasional hulu hingga hilir.

"Teknologi apa yang sama-sama digunakan, kemudian teknologi apa yang kira-kira bisa kita bisa tukar dan juga saling memanfaatkan, tentu utamanya di operasi dan produksi," ujar Ilhamsyah Mahendra, Direktur Produksi dan Komersial TINS.

Sementara itu, Direktur Utama TINS Restu Widiyantoro menyatakan koordinasi rutin terus berjalan, termasuk kepastian agenda keberangkatan tim perseroan menuju China dalam waktu dekat.

"Sampai sekarang rutin tetap. Mungkin bulan ini atau bulan depan, masih kita tunggu apakah kami yang harus ke sana. Kemarin timnya Yunnan Tin sudah datang ke Indonesia, nanti giliran kami yang ke sana," kata Restu Widiyantoro, Direktur Utama TINS.

Berdasarkan data operasional, TINS membukukan lonjakan kinerja positif pada kuartal I-2026 dengan produksi bijih timah mencapai 6.312 ton Sn, atau melonjak hingga 96 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 3.225 ton Sn.

Produksi logam timah juga melesat 82 persen menjadi 5.630 metrik ton Sn, diikuti volume penjualan yang meningkat 113 persen menjadi 6.009 metrik ton dengan harga jual rata-rata berada di angka US$49.221 per metrik ton.

Sebanyak 97 persen dari total penjualan kuartal I-2026 tersebut dialokasikan untuk pasar ekspor, di mana China menjadi negara tujuan utama dengan porsi mencapai 48 persen.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan performa sepanjang tahun 2025, di mana produksi bijih timah TINS sempat turun 4 persen menjadi 18.635 ton Sn akibat maraknya aktivitas penambangan ilegal oleh Ponton Isap Produksi (PIP) serta kendala penolakan masyarakat setempat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author