Hacker Iran Retas Drone FBI dan Ancam Piala Dunia
Kelompok peretas yang terafiliasi dengan Iran mengklaim telah membobol armada drone milik Biro Investigasi Federal (FBI) di Amerika Serikat pada Jumat (12/6/2026). Kelompok bernama Handala ini juga melayangkan ancaman terhadap gelaran Piala Dunia yang mulai berlangsung pekan ini di AS, seperti dilansir dari Detikcom.
Pernyataan dari Handala tersebut dipublikasikan oleh SITE Intelligence Group, sebuah organisasi yang bertugas memantau aktivitas kelompok jihadis. Handala menyatakan bahwa mereka telah menguasai data sensitif dari drone first-person view (FPV) milik FBI selama berbulan-bulan.
Data yang diklaim telah diakses mencakup setiap gambar dan identitas tersangka yang terekam oleh otoritas keamanan. Drone FPV milik FBI tersebut diketahui mengintegrasikan teknologi pengenalan wajah serta sistem pemantauan plat nomor kendaraan untuk menjalankan misi kontra-terorisme.
Ancaman siber ini kemudian diarahkan langsung pada sektor keamanan turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
"Sebaiknya perketat keamanan Piala Dunia Anda, kami sama sekali tidak menyukai beberapa tim tersebut. Jangan lupa: FPV ada di mana-mana; Anda tidak pernah tahu kapan salah satunya mungkin berakhir tepat di bus tim Anda," kata Handala dalam pernyataan yang dikutip SITE.
Guna mengantisipasi ancaman udara, FBI sebenarnya telah menempatkan sejumlah drone di area sekitar stadion demi menghalau pesawat tanpa izin. Otoritas AS juga memberlakukan larangan terbang bagi drone sipil di atas stadion pertandingan dan lokasi festival penggemar Piala Dunia sejak Kamis (11/6).
Pihak SITE Intelligence Group langsung menyanggah keaslian klaim peretasan tersebut meskipun Handala menyertakan bukti berupa foto dan rekaman video. SITE mengungkapkan bahwa salah satu video yang disebarkan hacker merupakan materi promosi buatan platform perangkat lunak pada Desember 2024 mengenai simulasi penanganan dampak tornado oleh kepolisian AS.
Sebelum insiden ini, Departemen Kehakiman AS telah memproyeksikan adanya lonjakan serangan siber dari peretas Iran akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS, Israel, dan Iran sejak akhir Februari lalu.
Handala sendiri tercatat pernah melancarkan aksi siber terhadap pejabat tinggi FBI pada Maret lalu. Kelompok ini mengklaim meretas akun surat elektronik milik Direktur FBI Kash Patel dan menyebarkan dokumen serta foto pribadi ke ranah publik.
Pemerintah Amerika Serikat kini mengambil langkah tegas untuk memburu kelompok siber tersebut. Departemen Luar Negeri AS membuka sayembara dengan menyediakan imbalan mencapai US$ 10 juta atau sekitar Rp 178,4 miliar bagi siapapun yang bisa memberikan informasi valid terkait identitas para anggota Handala.