Rupiah Menguat Empat Hari Beruntun Terpicu Penurunan Harga Minyak Dunia

Share

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup menguat ke posisi Rp17.870 per dolar AS pada sesi perdagangan Jumat (12/6/2026). Penguatan ini menggenapi tren positif mata uang garuda selama empat hari beruntun setelah Bank Indonesia mengerek suku bunga acuan ke level 5,5%.

Apresiasi rupiah pada penutupan pekan ini tercatat sebesar 0,68% untuk harian dan mencapai 0,84% sepanjang pekan, menjadi kinerja mingguan terbaik sejak Maret 2026. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Bloomberg Technoz, penguatan ini dipicu oleh penurunan harga minyak mentah dunia ke level US$86,87 per barel dan posisi indeks dolar AS yang berada di level 99,81.

Selain faktor eksternal, penguatan rupiah disokong oleh langkah Bank Indonesia yang memperketat pengawasan transaksi valuta asing di bank global dan institusi keuangan domestik. Bank Indonesia menempatkan petugas di ruang transaksi bank untuk memantau transaksi valas serta melarang bank mengambil posisi beli dolar untuk aktivitas spekulatif.

Di pasar obligasi, aksi beli investor menurunkan imbal hasil tenor 1 tahun sebesar 2,3 basis poin ke level 7,23%. Penurunan yield tertajam terjadi pada tenor 5 tahun sebesar 19 basis poin ke posisi 7,29%, disusul tenor 11 tahun yang turun 12,3 basis poin ke 7,4%, dan tenor acuan 10 tahun yang melemah 2,8 basis poin ke level 7,41%.

Kenaikan BI Rate di luar jadwal bulanan sempat membuat yield obligasi 10 tahun melonjak lebih dari 50 basis poin. Kondisi tersebut menyebabkan selisih imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun dengan obligasi pemerintah AS kini melebar hingga di atas 290 basis poin.

Pelebaran jarak imbal hasil ini dinilai menjadi daya tarik tersendiri bagi investor asing untuk kembali menanamkan modalnya di pasar keuangan domestik.

"Kami memperkirakan spread harus mencapai minimal 300 bps agar arus dana asing mulai kembali masuk. Pada 2024 dan 2025, level serupa berhasil menarik permintaan asing terhadap obligasi pemerintah Indonesia," kata Chandresh Jain, ahli strategi suku bunga dan valas di BNP Paribas.

Meredanya ketegangan antara AS dan Iran berimbas pada penurunan harga minyak dan memberikan sentimen positif bagi mayoritas mata uang di Asia. Won Korea Selatan mencatatkan penguatan paling signifikan di kawasan sepanjang pekan berkat aliran dana asing ke saham teknologi, diikuti oleh rupiah di posisi kedua terkuat.

Penguatan mata uang regional juga dialami oleh dolar Singapura, yuan offshore, yuan China, peso Filipina, dan yen Jepang. Sebaliknya, pelebaran pelemahan justru melanda beberapa mata uang lain seperti ringgit Malaysia, dolar Taiwan, rupee India, baht Thailand, dan dolar Hong Kong.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author