Penyebab Bayi Dua Bulan Susah Tidur dan Cara Mengatasinya

Share

Mengasuh bayi berusia dua bulan kerap menghadirkan tantangan tersendiri bagi orang tua, terutama saat fase istirahat mereka mulai berubah. Banyak ibu mempertanyakan kewajaran kondisi anak yang mendadak sulit terlelap, padahal sebelumnya menghabiskan mayoritas waktu untuk tidur.

Bayi pada kelompok usia ini umumnya memerlukan waktu tidur sekitar 15 jam dalam sehari, yang terbagi menjadi 9 jam pada malam hari dan kisaran 6 jam untuk tidur siang. Durasi sekali tidur biasanya tidak lebih dari 1 hingga 2 jam secara berurutan, dan pola ini jamak bertahan sampai usia tiga bulan karena kebutuhan menyusu yang masih intens.

Perbedaan mendasar antara mekanisme istirahat bayi dan orang dewasa menjadi pemicu utama fluktuasi ini. Selain dipengaruhi faktor lingkungan, pola tidur setiap anak bersifat individual dan mengalami transformasi besar seiring pertambahan usia.

Kesulitan tidur atau kecenderungan sering terbangun di malam hari dan jam-jam tidak biasa dikenal dengan istilah regresi tidur. Dikutip dari HaiBunda, kondisi ini menggambarkan fase sementara saat kualitas tidur bayi menurun dari biasanya.

1. Ketidaknyamanan Lingkungan

Sensitivitas tinggi terhadap stimuli eksternal dan internal membuat beberapa bayi sulit berelaksasi. Kamar yang terlalu senyap sering kali mengganggu ketenangan mereka.

"Beberapa bayi sangat sensitif terhadap lingkungan eksternal dan internal mereka," kata Harvey Karp, MD, pencipta The Happiest Baby on the Block.

"Bayi selalu digendong, diayun, dan disentuh di dalam rahim, dan selalu ada suara bising putih," kata Karp.

"Banyak bayi tidak bisa rileks karena mereka merindukan ketenangan ritmis itu."

2. Kurangnya Paparan Cahaya Siang Hari

Paparan cahaya matahari yang minim pada siang hari berdampak langsung pada siklus malam anak karena ritme sirkadian mereka belum terbentuk sempurna. Menurut Jodi Mindell, PhD, penulis buku Sleeping Through the Night, stimulasi cahaya pagi sangat krusial untuk mengoptimalkan hormon pengatur tidur.

"Ini menekan melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur sehingga puncaknya terjadi pada waktu yang tepat," kata Dr. Mindell.

3. Rasa Lapar dan Kelelahan Ekstrem

Kebutuhan nutrisi yang tinggi memicu bayi kembali terbangun di malam hari meski sudah disusui sebelum tidur. Di sisi lain, melewatkan waktu tidur siang justru membuat tubuh anak terlalu lelah, sehingga mereka makin sulit memicu kantuk.

4. Ketergantungan Bantuan untuk Terlelap

Bayi sering kali membutuhkan stimulasi fisik seperti gendongan atau tepukan untuk masuk ke fase tidur. Akibatnya, mereka akan kesulitan memejamkan mata kembali secara mandiri saat terbangun tanpa pendampingan orang tua.

Strategi Menenangkan Bayi yang Sulit Tidur

Menciptakan kondisi kamar yang ideal menjadi langkah awal untuk memicu rasa kantuk anak. Kamar tidur sebaiknya dipastikan berada dalam kondisi sejuk, gelap menggunakan tirai anti cahaya, serta bebas dari mainan yang merangsang keaktifan sebelum jam tidur.

Pemanfaatan white noise dengan volume rendah efektif untuk menyamarkan suara bising dari luar rumah. Teknik membedong dengan kain yang ringan dan berpori juga direkomendasikan untuk meniru kehangatan rahim dan menahan refleks kaget.Pengaturan jadwal menyusu setiap 2 hingga 3 jam pada siang hari membantu memastikan kecukupan nutrisi anak sebelum malam tiba. Metode memberi makan saat bayi setengah tidur (dream feed) dan menyendawakan anak secara berkala juga dapat memperpanjang durasi istirahat malam.

Aktivitas penunjang seperti ayunan lembut, nyanyian tenang, hingga mandi air hangat sebelum tidur dapat diterapkan sebagai bagian dari rutinitas malam. Orang tua disarankan menghindari stimulasi berlebih atau permainan aktif menjelang waktu istirahat.

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Konsultasi medis diperlukan jika gangguan tidur berlangsung dalam jangka panjang atau disertai dengan indikasi gangguan kesehatan fisik. Orang tua harus waspada jika kesulitan tidur diiringi gejala klinis seperti demam, batuk, keluarnya cairan hidung, pembengkakan kelenjar, atau tindakan anak yang sering menarik-narik telinga akibat rasa sakit.

Latihan tidur (sleep training) tidak boleh diterapkan pada bayi berusia dua bulan karena usia mereka yang masih terlalu muda. Terapi semacam itu umumnya baru disarankan secara medis ketika anak telah menginjak usia 4 hingga 6 bulan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author