Trafigura dan Vitol Perluas Penjualan Minyak Venezuela ke Asia

Share

Trader komoditas global Trafigura Group dan Vitol Group tengah memperluas jangkauan pasar minyak mentah asal Venezuela ke kawasan Asia. Langkah strategis ini diambil di tengah lonjakan produksi minyak negara Amerika Selatan tersebut serta gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat konflik Iran.

Seperti yang dilansir dari Bloombergtechnoz, Trafigura mulai menawarkan Merey 16, yang merupakan minyak mentah andalan Venezuela, kepada sejumlah perusahaan kilang di Korea Selatan. Informasi ini diperoleh dari sumber yang mengetahui transaksi rahasia tersebut.

Selain menyasar Korea Selatan, Trafigura baru-baru ini dilaporkan telah mengirimkan pasokan minyak mentah ke sebuah fasilitas kilang di Malaysia. Upaya diversifikasi pasar ini terus ditingkatkan oleh para trader komoditas.

Para trader juga menawarkan minyak mentah tersebut ke India dengan potongan harga atau diskon berkisar US$6 per barel terhadap patokan Dated Brent. Walau demikian, kepastian mengenai volume minyak yang berhasil terjual ke India belum dapat dikonfirmasi.

Langkah para trader memperluas pasar ke Asia dilakukan setelah mereka memasok minyak Venezuela ke pasar Amerika Serikat. Diversifikasi ini bertepatan dengan tingkat produksi Venezuela yang menyentuh level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir, mendekati volume sebelum Washington menerapkan sanksi luas pada 2019.

Peningkatan penawaran ke pasar Asia ini juga dipicu oleh konflik Iran yang menghambat arus lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz. Sementara itu, prospek perdamaian di kawasan Timur Tengah masih dinilai sulit untuk tercapai dalam waktu dekat.

Penjualan minyak ke India mengalami peningkatan signifikan setelah jatuhnya Nicolas Maduro pada awal Januari. Saat ini, India menyerap volume minyak mentah dari Venezuela hampir menyamai jumlah yang sebelumnya diimpor oleh China.

Kenaikan produksi minyak mentah di Venezuela menuntut penemuan basis pembeli baru di tingkat global. China yang dahulunya menjadi importir terbesar di Asia tercatat belum melakukan pembelian lagi sejak pemerintahan Trump mengambil alih kendali penjualan minyak negara tersebut.

Berdasarkan data dari perusahaan intelijen maritim Kpler Ltd, kargo minyak seberat 500.000 barel Merey 16 yang ditawarkan Trafigura telah dibongkar di fasilitas penyimpanan Korea Selatan pada awal Juni. Data bea cukai menunjukkan Korea Selatan terakhir kali mengimpor minyak Venezuela pada 2011.

Pihak Trafigura menolak untuk memberikan komentar resmi mengenai transaksi tersebut. Kapal supertanker Nissos Kea yang disewa Trafigura terpantau mengirimkan minyak ke pelabuhan Malaysia yang terhubung dengan kilang Melaka milik Petroliam Nasional Bhd atau Petronas.

Kilang Melaka merupakan produsen utama aspal yang membutuhkan pasokan minyak berat jenis Venezuela sebagai bahan baku utama. Di sisi lain, supertanker Solana yang disewa oleh Vitol juga telah membongkar 2 juta barel Merey 16 ke fasilitas penyimpanan terapung di lepas pantai Malaysia.

Fasilitas penyimpanan terapung tersebut berfungsi sebagai pusat distribusi untuk memecah kargo besar menjadi pengiriman kecil bagi pengguna akhir. Terkait aktivitas ini, pihak Vitol belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi.

Ekspansi penjualan ke Asia terjadi ketika harga minyak fisik mulai mengalami penurunan dari level tertinggi saat awal konflik Timur Tengah. Penurunan harga ini dipengaruhi oleh kuatnya ekspor Amerika Serikat, pelepasan cadangan darurat, serta melambatnya permintaan dari China.

Kondisi pasar minyak fisik juga kian tertekan dalam beberapa waktu terakhir akibat meningkatnya volume penawaran minyak mentah yang datang dari kawasan Timur Tengah.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author