Arus Minyak Non-Iran Lewat Selat Hormuz Melonjak Lima Puluh Persen

Share

Volume pengiriman minyak non-Iran yang melintasi Selat Hormuz melonjak sekitar 50 persen sepanjang awal Juni 2026. Lonjakan terjadi karena produsen di kawasan Teluk Persia menggunakan jalur pelayaran gelap untuk menghindari ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, dilansir dari Bloombergtechnoz pada Jumat (12/6/2026).

Data Vortexa Ltd menunjukkan sedikitnya 1,8 juta barel minyak per hari keluar dari Teluk Persia dalam 10 hari pertama Juni 2026. Angka pengiriman tersebut mengalami kenaikan signifikan dibandingkan dengan pasokan bulan Mei yang tercatat sebesar 1,2 juta barel per hari.

Sebaliknya, pengiriman komoditas energi dari Iran justru anjlok akibat blokade ketat dari Amerika Serikat yang menghambat pergerakan kapal tanker. Pemantauan citra satelit oleh Vortexa menunjukkan tidak ada satu pun minyak Iran yang melewati koridor tersebut selama periode awal Juni.

Pengawasan ketat Iran di wilayah perairan tersebut mulai melemah seiring meningkatnya pelayaran kapal tanpa sinyal pelacakan (dark transits). Kendati demikian, total volume arus minyak saat ini masih berada jauh di bawah tingkat sebelum perang yang sempat menyentuh 20 juta barel per hari.

"Melintasi selat tanpa sinyal AIS kini telah menjadi norma baru," kata Xavier Tang, analis pasar senior di Vortexa.

Kenaikan arus minyak ini membuat pasar mulai mengantisipasi pergerakan harga komoditas global. Saat Otoritas Selat Teluk Persia Teheran mengumumkan penutupan jalur perairan pada Kamis (11/6/2026), kontrak berjangka Brent dilaporkan hampir tidak bergerak.

Kondisi pasar saat ini sangat kontras dengan awal konflik ketika penutupan pertama oleh Iran memicu lonjakan harga minyak hingga 13 persen. Respons stabil ini sebagian mencerminkan dampak proyek rahasia yang disebut Presiden Donald Trump telah membantu mengalirkan sekitar 100 juta barel minyak sejak bulan lalu.

Peningkatan volume minyak Teluk yang berhasil keluar terjadi bersamaan dengan penurunan impor minyak mentah oleh China serta pelepasan cadangan darurat. Kombinasi faktor tersebut berhasil menekan harga kontrak berjangka minyak hingga turun hampir sepertiga dari titik puncaknya saat konflik memanas.

Hingga kini, eskalasi permusuhan antara Amerika Serikat dan Iran belum berdampak langsung pada aset energi regional secara keseluruhan. Namun, para pelaku pasar tetap mencermati kemampuan kapal tanker untuk keluar dari kawasan setelah adanya pernyataan penutupan terbaru dari pihak Iran.

Di sisi lain, Amerika Serikat terus meningkatkan operasi militer terhadap armada yang dituduh mencoba memasuki pelabuhan Iran guna menghambat ekspor Teheran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah melumpuhkan dua kapal di Teluk Oman karena melanggar blokade, sementara satu kapal lain mengalami kebakaran ruang mesin pada Kamis (11/6/2026).

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author