Aparat Jepang Tangkap Beruang Hitam di Utsunomiya Setelah Resahkan Warga

Share

Aparat berwenang di Jepang berhasil mengamankan seekor beruang hitam yang berkeliaran di kawasan Kota Utsunomiya, wilayah yang berdekatan dengan Tokyo. Kehadiran satwa liar tersebut sempat memicu kecemasan mendalam di kalangan penduduk setempat hingga memaksa otoritas wilayah meliburkan aktivitas seluruh sekolah negeri.

Seperti dikutip dari Detik Travel, Kepolisian Utsunomiya Timur melaporkan bahwa hewan tersebut diringkus pada hari Selasa setelah petugas melacak posisinya sekitar 2,5 kilometer ke arah selatan dari stasiun utama kota. Operasi pelumpuhan satwa liar ini berlangsung selama satu jam 40 menit.

Dalam proses penangkapan, seorang dokter hewan sempat meleset saat melepaskan tembakan peluru bius yang pertama. Beruang tersebut baru dapat ditaklukkan secara total setelah petugas melepaskan dua tembakan bius berikutnya ke arah target.

Berdasarkan laporan BBC pada Jumat (12/6/2026), mamalia besar dengan perkiraan berat mencapai 100 kilogram itu terdeteksi muncul lebih dari 20 kali oleh warga sejak hari Sabtu sebelumnya. Penduduk setempat berulang kali menyaksikan keberadaan satwa tersebut di sekitar area permukiman, fasilitas sekolah, taman umum, hingga kawasan aliran sungai.

Hewan tersebut juga terpantau sempat berenang dan memanjat pagar pembatas rumah penduduk, sebuah fenomena yang dinilai sangat tidak biasa untuk kawasan perkotaan. Merespons situasi darurat ini, Pemerintah Kota Utsunomiya mengambil langkah tegas dengan menutup total 94 sekolah dasar dan menengah negeri serta mengimbau masyarakat untuk selalu mengunci rapat pintu dan jendela hunian mereka.

Pihak berwenang setempat mengindikasikan kemungkinan adanya satu ekor beruang lain yang saat ini masih berkeliaran di area perkotaan. Jepang belakangan ini memang sedang dihadapkan pada lonjakan insiden perjumpaan serta konflik antara manusia dengan populasi beruang.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup Jepang menunjukkan bahwa sebanyak 238 orang menjadi korban dari serangan beruang sepanjang tahun 2025, di mana 13 korban di antaranya dilaporkan meninggal dunia. Statistik fatalitas tersebut tercatat sebagai angka tertinggi sepanjang sejarah pendataan yang dilakukan oleh pemerintah setempat.

Sejumlah pakar satwa liar menganalisis bahwa peningkatan intensitas kemunculan beruang di area hunian dipicu oleh merosotnya ketersediaan pasokan makanan alami di habitat mereka, seperti biji ek dan kacang beech. Faktor kelangkaan pangan ini mendorong kawalan beruang yang biasanya mendiami area pegunungan, khususnya di wilayah Tohoku, turun ke zona domestik demi mengais makanan.

Faktor lain yang dinilai ikut andil adalah penyusutan drastis jumlah populasi penduduk di daerah pedesaan Jepang. Berkurangnya jejak aktivitas manusia di pedalaman membuat satwa-satwa ini menjadi lebih berani untuk melangkah masuk ke wilayah-wilayah yang dulunya padat oleh kegiatan masyarakat.

Pergeseran kondisi ekologi lingkungan juga disinyalir ikut mengacaukan siklus hibernasi alami beruang, sehingga memperlama durasi masa aktif satwa tersebut di luar sarang. Di tempat lain, petugas juga masih terus melacak keberadaan satu beruang lain yang sempat melukai empat orang di wilayah perumahan Kota Fukushima pada pekan lalu, karena upaya pembiusan sebelumnya masih menemui kegagalan.

Penerapan Teknologi Modern untuk Mitigasi Satwa

Beruang yang berada di Fukushima tersebut dilaporkan sempat menerobos masuk ke area pabrik elektronik dan berhasil meloloskan diri dari kepungan ketat aparat kepolisian. Wali Kota Fukushima bahkan membeberkan informasi bahwa petugas sempat memergoki satwa itu sedang meminum air langsung dari keran dan ditengarai memiliki kemampuan untuk memutar sendiri gagang keran tersebut.

Menyikapi ancaman ini, Pemerintah Jepang mulai mengintegrasikan penggunaan teknologi drone guna mengoptimalkan proses pelacakan di lapangan. Pada awal tahun ini, pihak eksekutif juga telah membentuk satuan tugas khusus sekaligus memberlakukan kebijakan darurat demi meredam potensi jatuhnya korban baru akibat serangan beruang.

Beberapa pemerintah daerah bersama korporasi teknologi kini berkolaborasi merancang proteksi preventif, mulai dari sistem pemantauan otomatis berbasis kecerdasan buatan hingga penggunaan drone dengan sensor kamera termal untuk mendeteksi pergerakan beruang di balik vegetasi hutan yang rapat. Di sisi lain, produsen Ohta Seiki mengungkapkan adanya lonjakan pesanan yang signifikan pada tahun 2026 untuk produk robot pengusir satwa liar bernama 'super monster wolf', melampaui volume pemesanan di periode normal.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author