PLTGU Jawa 1 Beroperasi Normal di Tengah Pemadaman Listrik

Share

PT Jawa Satu Power (JSP) memastikan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa 1 tetap beroperasi normal pada beban kelistrikan sekitar 700 megawatt (MW), dilansir dari Bloomberg Technoz pada Jumat (12/6/2026). Penegasan ini merespons isu gangguan operasional pembangkit yang dituding menjadi penyebab pemadaman listrik bergilir di sistem interkoneksi Jawa-Madura-Bali (Jamali) 500 kilo volt (kV).

Direktur Utama PT Jawa Satu Power Dwi Murray menyampaikan bahwa pemeliharaan berkala pada unit 1 telah selesai dikerjakan secara aman. Proses interkoneksi dan pembebanan pembangkit kini sepenuhnya dikendalikan terpusat oleh pihak PLN melalui pengatur beban.

"Saat ini PLTGU Jawa Satu beroperasi dengan baik dan siap mendukung kebutuhan sistem sesuai pengaturan pembebanan yang ditetapkan PLN. Penyelesaian pemeliharaan Unit 1 yang lebih cepat dari rencana," kata Dwi dalam siaran pers, dikutip Jumat (12/6/2026).

Fasilitas infrastruktur energi ini mengintegrasikan floating storage and regasification unit (FSRU) dengan kapasitas total mencapai 1.760 MW dari dua unit pembangkit. Kepemilikan saham JSP dipegang oleh konsorsium Pertamina New & Renewable Energy sebesar 40 persen, Marubeni Corporation 40 persen, dan Sojitz 20 persen.

Di sisi lain, PT PLN (Persero) tidak menampik adanya kendala operasional eksternal yang sempat mengurangi pasokan listrik di beberapa wilayah interkoneksi Jawa. Kendati demikian, perusahaan negara tersebut memastikan situasi jaringan transmisi saat ini sudah kembali normal dan aman.

"Sistem kelistrikan Jawa beroperasi dan terkendali dengan baik, meskipun terdapat kendala operasional yang berdampak pada berkurangnya pasokan listrik di sejumlah wilayah,," kata EVP Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Gregorius Adi Trianto saat dihubungi, Jumat (12/6/2026).

Sementara itu, Institute for Essential Service Reform (IESR) menganalisis bahwa pemadaman berkala di Jawa Barat hingga Jawa Tengah dipicu faktor penunjang lain. Pasokan bahan bakar yang menipis pada sejumlah PLTU disinyalir menjadi penyebab utama penurunan kapasitas produksi listrik.

"IESR menduga bahwa pemadaman bergilir yang terjadi belakangan dipicu oleh rendahnya cadangan bahan bakar di sejumlah PLTU di sistem Jawa—Bali sehingga harus beroperasi di bawah kapasitas optimal. Keterbatasan pasokan batu bara yang membuat HOP di bawah batas aman," kata Chief Executive Officer (CEO) IESR Fabby Tumiwa dalam keterangan tertulis, Kamis (11/6/2026).

Kondisi kritis hari operasi pembangkit (HOP) tersebut diduga terjadi akibat keterlambatan distribusi batu bara dampak tertundanya persetujuan RKAB 2026. Laporan pemadaman listrik massal sendiri sempat dikeluhkan masyarakat melalui media sosial sejak Rabu (10/6/2026) hingga Kamis (11/6/2026) yang tersebar di wilayah Bandung, Bekasi, Semarang, hingga Yogyakarta.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author