Tradisi Perang Pandan Desa Tenganan Pegringsingan Pikat Wisatawan
Tradisi mekare-kare atau yang lebih dikenal sebagai perang pandan di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem, kembali menjadi daya tarik utama bagi para pelancong. Seperti dilansir dari Detik Travel, ratusan warga bersama wisatawan domestik dan luar negeri memadati lokasi demi menyaksikan ritual sakral tahunan tersebut.
Para pengunjung rela berdesakan di sekitar arena sejak siang hari untuk mengabadikan momen langka ini. Sejumlah fotografer dari berbagai wilayah juga terlihat bersaing mendapatkan posisi terdepan guna memperoleh visual terbaik.
Sebelum ritual dimulai, pemuda dan pemudi setempat mempersiapkan segala keperluan, termasuk ikatan daun pandan berduri yang menjadi senjata utama. Begitu pertarungan dimulai, penonton langsung merapatkan barisan, bahkan beberapa di antaranya menggunakan bangku untuk melihat lebih jelas.
Salah satu pengunjung asal Kabupaten Badung, Made Dwipayana, mengungkapkan kekagumannya saat melihat langsung pertarungan yang membuat para pesertanya terluka akibat duri pandan.
"Saya sebenarnya sering ke sini sama tamu, tapi kalau untuk melihat tradisi perang pandan secara langsung baru pertama. Ini karena anak saya yang ingin melihat langsung," kata Dwipayana, Rabu (10/6).
Kelian Desa Adat Tenganan Pegringsingan, I Putu Yudiana, menjelaskan bahwa ritual ini merupakan bentuk penghormatan kepada Dewa Indra yang diyakini sebagai Dewa Perang. Agenda ini rutin digelar setiap tahun dalam rangkaian Usaba Sambah.
Bagi masyarakat adat setempat yang menganut Hindu Dharma dalam sekaa Indra, pertempuran ini bukanlah bentuk permusuhan. Tradisi tersebut merupakan simbol bakti dan tanggung jawab para remaja putra kepada keluarga serta desa mereka.
Prosesi adat ini dimulai sejak pagi hari, di mana para remaja putra dan putri mendaki puncak gunung di Desa Tenganan Pegringsingan untuk menghaturkan kelapa muda atau kuud.
Setelah itu, para pemuda bertugas mengumpulkan daun pandan untuk bertarung. Sementara para pemudi meracik boreh, yaitu ramuan obat penawar tradisional untuk mengobati luka para peserta.
Masyarakat setempat meyakini boreh tersebut sangat ampuh mempercepat penyembuhan. Luka akibat duri pandan biasanya mulai mengering dalam satu hari dan sembuh total dalam waktu satu minggu.
"Dalam tradisi perang pandan akan diikuti oleh para remaja putra mulai dari anak-anak hingga dewasa. Namun juga boleh diikuti oleh masyarakat luar Desa bahkan para wisatawan yang ingin ikut," ucap Yudiana.
Setelah pertarungan usai, tidak ada dendam di antara para peserta. Mereka saling merangkul lalu melanjutkan kegiatan dengan tradisi megibung atau makan bersama sebagai wujud kebersamaan.
Yudiana menambahkan bahwa tahun ini merupakan kali kelima pelaksanaan perang pandan diselaraskan dengan Tenganan Pegringsingan Culture Festival. Langkah ini diharapkan dapat memperluas pengenalan desa ke ranah internasional.
"Ini tahun kelima tradisi perang pandan disinkronkan dengan festival. Semoga ini bisa lebih mengenalkan Desa Tenganan Pegringsingan secara lebih luas," harap Yudiana.