BAKTI Komdigi Terapkan Budaya Kerja 3T Terinspirasi Misi Mars SpaceX
Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) berkomitmen penuh untuk menghadirkan konektivitas digital di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Misi besar di bumi Indonesia ini menjadi landasan utama dalam membangun kultur kerja instansi pemerintah tersebut.
Direktur Utama BAKTI Komdigi, Fadilah Mathar, mengungkapkan bahwa semangat tersebut telah menjadi bagian dari kultur kerja yang dibangun di lembaganya, seperti dikutip dari Detik iNET.
"Semua rekan-rekan di BAKTI ketika bapak ibu tanya culture-nya apa sih di BAKTI, mereka pasti akan bilang 3T. Mereka pasti akan siap-siap pergi ke wilayah 3T," sebutnya.
Kultur kerja ini terinspirasi dari kunjungan Fadilah ke perusahaan antariksa milik Elon Musk, SpaceX. Dalam pertemuan dengan jurnalis di Berau, Kalimantan Timur, ia menceritakan dialognya dengan salah satu petinggi di perusahaan teknologi global tersebut terkait budaya organisasi.
"Saya pernah bertanya waktu itu ke setingkat direktur, apa corporate culture di SpaceX? Mereka bilang semua yang kerja di sini pasti mau ke Mars," kata Fadilah.
BAKTI Komdigi menilai setiap organisasi membutuhkan target besar sebagai identitas bersama. Fokus pelayanan digeser ke wilayah 3T untuk mengatasi keterisolasian geografis dan keterbatasan infrastruktur telekomunikasi.
Lembaga ini menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menyediakan akses internet di lokasi yang tidak menguntungkan secara bisnis bagi operator komersial.
"BAKTI ini khusus untuk menyelenggarakan dan membangun akses internet atau konektivitas digital atau sinyal di wilayah-wilayah yang tidak dibangun oleh pihak swasta. Karena kalau pemerintah tidak mengurus maka sampai kapan pun akses tidak akan diterima oleh masyarakat," jelasnya.
Saat ini, berbagai program konektivitas nasional terus berjalan, meliputi pembangunan BTS 4G, penyediaan jaringan internet gratis untuk fasilitas kesehatan dan sekolah, hingga operasional Satelit Republik Indonesia (SATRIA-1).
Infrastruktur telekomunikasi yang dibangun kini telah menghubungkan lebih dari 31 ribu titik layanan publik. Jaringan tersebut menjangkau pusat kesehatan masyarakat, kantor desa, sekolah, hingga pos keamanan di berbagai wilayah pelosok tanah air.