PTBA Sepakati Pembagian Dividen Rp1,3 Triliun Melalui RUPST

Share

Pemegang saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) resmi menyetujui rencana pembagian dividen tunai untuk tahun buku 2025 senilai sekitar Rp1,3 triliun atau sebesar Rp114 per saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta pada Kamis (11/6/2026).

Dilansir dari Bloombergtechnoz, nilai dividen tunai yang disepakati tersebut setara dengan rasio pembayaran dividen sebesar 45 persen. Angka ini tercatat lebih rendah dibandingkan dengan porsi dividen tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 75 persen atau senilai Rp3,82 triliun.

Penurunan alokasi dividen ini sejalan dengan laba bersih emiten batu bara pelat merah tersebut yang membukukan angka Rp2,93 triliun sepanjang tahun 2025, setelah sebelumnya berhasil menghimpun laba bersih mencapai Rp5,1 triliun pada tahun 2024. Nilai dividen tahun buku 2025 itu mengindikasikan yield sebesar 4,2 persen berdasarkan harga saham PTBA sebesar Rp2.730 per saham pada intraday Kamis (11/6/2026).

Selain membukukan laba bersih Rp2,93 triliun, perusahaan berkode saham PTBA tersebut juga mencatatkan pendapatan sebesar Rp42,65 triliun dengan peningkatan volume penjualan sebesar 6 persen secara tahunan. Porsi penjualan domestik mendominasi sebesar 54 persen, sedangkan sisanya diserap oleh pasar ekspor.

“Di tengah tekanan harga batu bara global sepanjang 2025, PT Bukit Asam tetap mampu mempertahankan kinerja operasional yang solid,” kata Direktur Utama PTBA Arsal Ismail lewat siaran pers, Rabu (1/4/2026).

Arsal Ismail menjelaskan lebih lanjut bahwa perseroan juga berhasil mencatatkan perbaikan profitabilitas secara kuartalan. Peningkatan ini dipicu oleh optimalisasi portofolio pada pasar ekspor serta penerapan efisiensi biaya secara berkelanjutan.

“Kinerja tersebut tercermin dari pertumbuhan volume produksi dan penjualan yang tetap positif,” tutur Arsal Ismail.

Secara operasional, perusahaan mencatat pertumbuhan produksi sebesar 9 persen secara tahunan, meskipun harga jual rata-rata mengalami penurunan sebesar 6 persen akibat melemahnya harga batu bara global. Indeks Batu Bara Newcastle tercatat turun sebesar 22 persen, sementara Indonesia Coal Index-3 mengalami penurunan hingga 16 persen sepanjang periode tersebut.

Kenaikan volume operasional juga berdampak pada beban pokok pendapatan perusahaan yang naik sebesar 5 persen secara tahunan menjadi Rp36,39 triliun. Kendati demikian, perusahaan berhasil menekan stripping ratio menjadi 6,07 kali dari periode tahun sebelumnya yang berada di angka 6,23 kali.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author