Emil Salim Terima Penghargaan Kalpataru dan Ingatkan Menteri Jaga Laut
Ekonom senior sekaligus tokoh lingkungan hidup, Emil Salim, menerima Penghargaan Lifetime Achievement Kalpataru di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, pada Kamis (11/6/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan pesan krusial kepada Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) agar menjaga wilayah laut Indonesia dari kerusakan.
Acara penyerahan penghargaan ini dihadiri oleh sejumlah pejabat, seperti dilansir dari Detikcom. Emil Salim menjadi salah satu dari 16 penerima penghargaan Kalpataru yang diberikan atas dedikasi panjang mereka terhadap kelestarian lingkungan.
Saat memberikan sambutan, Emil menyoroti tantangan besar global terkait keterbatasan sumber air minum. Ia menekankan bahwa sebagai negara kepulauan besar, Indonesia perlu mengubah cara pandang dalam mengelola potensi maritimnya.
"Dewasa ini kita mengalami masalah lingkungan yang mengalami tantangan besar di mana air minum menjadi permasalahan yang cukup serius. Tanah air Indonesia adalah negara kepulauan. Bumi Eropa, Amerika, adalah bumi yang luas dan lautannya kecil. Indonesia adalah kepulauan yang lautannya besar," kata Emil Salim.
Mantan Menteri Lingkungan Hidup ini juga memaparkan bahwa persediaan air tanah di daratan sangat terbatas. Menurutnya, pemanfaatan air laut sebagai alternatif sumber air bersih masa depan hingga kini belum dikembangkan secara optimal.
"Tanah adalah tempat kita hidup. Air yang kita minum, air tanah. Tetapi lautan belum kita kembangkan sebagai sumber air minum. Yang kita minum, air tanah dan tanah kita terbatas," kata Emil Salim.
Ia menambahkan bahwa posisi geografis Indonesia menuntut pengelolaan yang menempatkan daratan dan lautan sebagai subjek pembangunan secara setara.
"Maka, kalau tanah air Indonesia, tidak bisa mengacu hanya di mana tanah adalah objek, di mana air adalah objek, tetapi bagaimana laut juga menjadi subjek, di mana tanah menjadi subjek," sambung Emil Salim.
Lebih lanjut, Emil meminta Menteri Lingkungan Hidup berkolaborasi dengan kementerian lain yang memanfaatkan wilayah perairan. Koordinasi lintas sektor ini dinilai penting demi mencegah eksploitasi laut secara berlebihan.
"Maka, jika laut belum menjadi sumber kehidupan kita, negara kepulauan, Bapak Menteri Lingkungan Hidup perlu mengajak Menteri Kelautan, Menteri Perikanan, menteri semua yang memakai laut menjadi sumber kehidupan kita. Jangan laut menjadi objek dari kehidupan kita," kata Emil Salim.
Ia berharap kementerian strategis seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Pekerjaan Umum tidak lagi memandang sektor laut sebelah mata.
"Jadi, Menteri Lingkungan Indonesia perlu mengembangkan laut sebagai sumber kehidupan, air laut sebagai sumber kehidupan. Bapak Menteri, saya mohon bantuan Bapak. Bisakah kita membangun Republik Indonesia tanpa merusak laut? Dalam kaitan ini, semua menteri yang ada, Menteri Perindustrian, Menteri Pertanian, Menteri Pekerjaan Umum, melihat laut bukan sebagai subjek, tapi objek," sambung Emil Salim.
Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat menyambut baik dan mengapresiasi masukan tersebut. Jumhur menyatakan komitmennya untuk mengawal kelestarian lingkungan di seluruh wilayah Indonesia menggunakan momentum ini sebagai motivasi tambahan.
"Pak Emil betul sekali, bahwa kita bertanggung jawab untuk semua pembangunan setiap senti, ya, di manapun wilayah Indonesia, karena untuk memastikan agar lingkungan hidup. Karena itu semangat dari Pak Emil, dukungan Pak Emil kepada kami, kepada saya pribadi, insyaallah menjadi energi besar untuk memastikan mengawal lingkungan ini dengan baik," kata Jumhur Hidayat.
Jumhur menjelaskan bahwa pihak KLH tengah bekerja keras mengatasi persoalan pencemaran maritim. Langkah ini mencakup penanganan sampah plastik di laut melalui program edukasi masyarakat dari wilayah hulu hingga kerja sama internasional.
"Soal laut tentu kita lagi kerja keras untuk itu dan sampah-sampah laut sekarang sudah mulai kita serius, marine debris. Bahkan kita punya kerja sama internasional untuk itu, dan insyaallah edukasi dari masyarakat-masyarakat yang di pantai, maksudnya di pedalaman yang membuang sampahnya ke sungai, yang bisa membangun pulau plastik di osean itu. Kita mulai di apa, kita ajari dari hulunya," imbuh Jumhur Hidayat.