Pertamina Naikkan Harga Pertamax Menjadi Rp16.250 Per Liter

Share

Pertamina Patra Niaga menaikkan harga bahan bakar minyak non-subsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 menjadi Rp17.000 per liter mulai Rabu, 10 Juni 2026. Penyesuaian ini dilakukan berkala dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia.

Kebijakan penyesuaian harga komoditas non-subsidi tersebut diambil setelah Pertamina melakukan koordinasi dengan pemerintah selaku regulator. Langkah ini dilaporkan mengacu pada regulasi yang berlaku mengenai formula harga pasar keekonomian energi.

Dilansir dari Detikcom, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengonfirmasi bahwa penerapan harga baru ini merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi nasional. Aturan ini berfokus pada keseimbangan bisnis dan kepastian pasokan bagi masyarakat.

"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah," ujar Roberth dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6).

Kenaikan harga tersebut mendapat tanggapan dari Dewan Perwakilan Rakyat yang menilai kebijakan ini sudah memperhitungkan kemampuan domestik. Wakil Ketua Komisi VI DPR, Andre Rosiade, menyatakan bahwa harga baru ini masih berada di bawah rata-rata harga minyak global.

"Di tengah gonjang-ganjing kenaikan harga minyak dunia, apalagi kita tahu perang kembali pecah antara Iran dan Amerika, itu tentu membuat harga minyak dunia kembali berfluktuatif. Pemerintah memberikan pernyataan yang tegas dan jelas bahwa tidak akan ada kenaikan BBM bersubsidi. Itu menunjukkan keberpihakan pemerintah yang jelas kepada masyarakat Indonesia," kata Andre saat dihubungi, Kamis (11/6/2026).

Politisi tersebut mengapresiasi keputusan untuk tidak mengubah harga BBM bersubsidi seperti Pertalite demi menjaga stabilitas ekonomi warga. Ia menilai harga Pertamax saat ini masih relatif terjangkau jika dibandingkan dengan harga di luar negeri.

"Ya Pertamax kita tahu ini adalah BBM nonsubsidi, meskipun naik ya, tapi harga kenaikan kita, harga baru kita ini masih jauh di bawah harga BBM yang ada di berbagai wilayah dunia. Sangat jauh," ucap Andre.

Menurutnya, harga bahan bakar dengan oktan serupa di beberapa negara lain sudah menembus angka yang jauh lebih tinggi. Perbandingan tersebut dinilai menjadi bukti intervensi pemerintah dalam menjaga daya beli.

"Bahkan sampai ada yang di atas Rp 40 ribu, bahkan ada yang Rp 70 ribu gitu per liter. Nah, sedangkan kita menjual Rp 16.250. Lalu RON 95 kita seharga Rp 17 ribuan per liter," imbuh Andre.

Andre juga menggarisbawahi bahwa kenaikan harga komoditas non-subsidi ini tidak akan memicu lonjakan inflasi nasional secara masif. Pemerintah diklaim telah menyiapkan mitigasi komprehensif untuk mencegah efek domino pada kebutuhan pokok.

"Iya kalau pemerintah pasti punya cara ya untuk menjaga supaya tidak terjadi inflasi. Semuanya kan pasti kebijakannya ini pasti sudah diperhitungkan secara matang oleh pemerintah untuk mengantisipasi jangan ada inflasi, jangan ada kenaikan bahan pokok," jelas Andre.

Ia menambahkan bahwa sektor industri telah mengalami penyesuaian tarif bahan bakar terlebih dahulu pada kuartal kedua tahun ini. Hingga saat ini, pergerakan harga barang di pasar dinilai masih relatif aman dan terkendali.

"Hadi saya rasa insyaallah tidak akan terjadi hal-hal yang menyebabkan kenaikan sembako dan lain-lain," tutur Andre.

Melalui penyesuaian terbaru ini, harga Pertamax RON 92 bergeser dari harga semula Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, varian Pertamax Green RON 95 mengalamu kenaikan dari harga awal Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.

Untuk produk bahan bakar non-subsidi lainnya terpantau tidak mengalami perubahan harga di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina. Harga Pertamax Turbo RON 98 tetap dijual Rp20.750 per liter, sedangkan Pertamina Dex CN 53 bertahan pada angka Rp24.800 per liter.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: BBM Naik Pertamax Pertamina
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author