Militer Kuwait Cegat Target Udara Asing dan Tutup Wilayah Penerbangan
Sistem pertahanan udara militer Kuwait mencegat sejumlah target udara asing yang memasuki wilayah yurisdiksinya pada Kamis (11/6/2026) waktu setempat. Otoritas penerbangan sipil kemudian menghentikan operasional udara sementara waktu akibat imbas serangan udara yang diluncurkan dari Iran.
Ketegangan ini terjadi pascaserangan terbaru Amerika Serikat ke wilayah selatan Iran, seperti dilansir dari Detikcom. Pihak Washington menyebut aksi tersebut sebagai langkah mempertahankan diri dari agresi Teheran.
Respons cepat langsung diambil oleh komando angkatan bersenjata setempat demi mengamankan kedaulatan wilayahnya.
"Staf Umum Militer mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara saat ini sedang menghadapi target-target udara yang bermusuhan, sesuai dengan prosedur operasional yang telah ditetapkan," kata pihak militer Kuwait.
Pihak keamanan juga mengimbau warga agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
"semua orang untuk mematuhi instruksi dan pedoman keamanan dan keselamatan yang dirilis otoritas terkait, dan untuk mendapatkan informasi dari sumber-sumber resmi dan terpercaya" seru pihak militer Kuwait.
Langkah antisipasi kedaruratan berlanjut pada penutupan total jalur lalu lintas udara sipil mulai pukul 04.50 waktu setempat. Seluruh jadwal penerbangan yang menuju Kuwait dialihkan menuju bandara-bandara di negara alternatif.
"Langkah-langkah ini diambil menyoroti serangan Iran terhadap Negara Kuwait dan potensi risiko yang ditimbulkannya terhadap penerbangan sipil di wilayah tersebut," ujar pihak Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Kuwait.
Pembukaan kembali ruang udara akan dilakukan setelah koordinasi dan asesmen keamanan menyatakan wilayah tersebut telah sepenuhnya aman.
"Wilayah udara akan dibuka kembali dan lalu lintas akan dilanjutkan segera setelah situasi berakhir dan penyebab bahaya telah dihilangkan, berdasarkan penilaian dari otoritas terkait," tambah pihak Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Kuwait.
Situasi di kawasan Timur Tengah terus memanas setelah Amerika Serikat dan Iran saling melakukan serangan balasan. Kondisi ini merusak kesepakatan gencatan senjata yang sempat disepakati pada awal April lalu.
Pihak Teheran sendiri mengklaim penyerangan Amerika Serikat menyasar fasilitas pengintaian militer, sistem komunikasi, dan situs pertahanan udara mereka. Hal itu memicu reaksi keras dari petinggi militer Iran.
Militer Iran telah mengancam akan memberikan respons yang "menghancurkan dan tegas" terhadap setiap agresi AS di kawasan Timur Tengah.