BI Laporkan Penjualan Eceran April 2026 Turun 3,7 Persen
Bank Indonesia (BI) melaporkan performa penjualan eceran domestik yang mengalami penurunan secara bulanan maupun tahunan pada April 2026.
Dikutip dari Bloombergtechnoz, Indeks Penjualan Riil (IPR) untuk utusan April berada di angka 226,9, yang menandakan penurunan sebesar 3,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan capaian Maret 2026 yang masih mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3,4% yoy.
Penurunan penjualan eceran pada April ini tercatat sebagai yang paling rendah dalam kurun waktu hampir tiga tahun terakhir, tepatnya sejak Mei 2023.
"Kinerja tersebut didorong oleh tetap tumbuhnya penjualan secara tahunan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, serta Barang Budaya dan Rekreasi," sebut laporan BI.
Jika dilihat secara bulanan (month-to-month/mtm), performa penjualan ritel pada April menyusut hingga 11,6%, berbalik dari bulan Maret yang sempat melonjak 10,3% mtm.
Pihak BI menjelaskan bahwa penurunan secara bulanan ini terjadi karena adanya normalisasi permintaan dari masyarakat setelah berakhirnya momen Ramadan dan Idul Fitri 1447 H yang pada tahun ini jatuh di bulan Maret.
Memasuki periode Mei 2026, BI memproyeksikan perbaikan performa dengan IPR yang diperkirakan berada pada level 225.
Meskipun angka tersebut masih terkontraksi 0,9% yoy, persentase penurunan ini dinilai sudah jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi pada bulan April.
"Ditopang terutama oleh peningkatan penjualan secara tahunan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, dan Barang Lainnya," demikian laporan BI.
Untuk skala bulanan, penjualan eceran Mei 2026 diprediksi mengalami kontraksi sebesar 0,9% mtm.
Tingkat penurunan ini melandai dibantu oleh dorongan permintaan masyarakat selama masa libur panjang Kenaikan Yesus Kristus, Idul Adha, dan Waisak.
Ekspektasi Harga dan Tekanan Inflasi
Mengenai pergerakan harga, BI memperkirakan bahwa tekanan inflasi untuk tiga bulan mendatang, tepatnya pada Juli 2026, akan berada dalam kondisi yang relatif stabil.
Hal ini ditunjukkan oleh Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Juli yang berada di posisi 175,8, tidak banyak berubah dari IEH Juni yang sebesar 175,6.
Namun, tekanan harga diperkirakan bakal merangkak naik dalam enam bulan ke depan atau pada Oktober 2026.
Proyeksi IEH untuk Oktober 2026 diestimasikan menyentuh 167,6, bergerak lebih tinggi daripada IEH September yang sebesar 163,2 akibat adanya kenaikan pada harga bahan baku.