PT Freeport Indonesia Tetap Jaga Target Produksi Tembaga Tahun 2026

Share

PT Freeport Indonesia (PTFI) memutuskan tidak menaikkan volume produksi tembaga secara mendadak di kompleks DPR pada Rabu (10/6/2026), meskipun harga logam merah tersebut sempat melonjak ke kisaran US$14.000 per ton. Keputusan strategis ini diambil karena fluktuasi nilai komoditas di pasar internasional merupakan faktor eksternal yang berada di luar kendali perusahaan.

Langkah perseroan dalam mempertahankan volume penambangan dilakukan guna menjaga stabilitas operasional jangka panjang. Dilansir dari Bloomberg Technoz, manajemen memastikan operasional pertambangan tetap berjalan sesuai rencana kerja yang telah disepakati sebelumnya tanpa terpengaruh dinamika pasar.

"Kan kita ibaratnya faktor harga itu [tidak bisa dikendalikan], kita fokus pada apa yang bisa kita kendalikan gitu," kata Tony Wenas, Presiden Direktur PTFI.

Manajemen menegaskan bahwa lonjakan harga tidak bisa dijadikan indikator instan untuk mengubah kapasitas produksi. Operasional perusahaan akan tetap mengutamakan aspek keselamatan kerja dan keberlanjutan lingkungan.

"Jadi kalau faktor harga itu bukan berarti kalau harganya tinggi terus kita produksinya ditambah, ya enggak bisa seperti itu. Tetap saja kita produksi secara aman berkelanjutan," lanjut Tony Wenas, Presiden Direktur PTFI.

Ketentuan volume produksi ini juga berlaku apabila kondisi pasar mengalami penurunan. Perusahaan berkomitmen menjaga konsistensi aktivitas hulu pertambangan sesuai cetak biru operasional.

"Soal harganya, ya kita kalau harganya tinggi ya syukur. Kalau harganya rendah juga kita tetap saja melakukan sesuai dengan rencana penambangannya. Jadi bukan berarti kalau harga tinggi terus kemudian kita produksi lebih tinggi," tegas Tony Wenas, Presiden Direktur PTFI.

Berdasarkan data perusahaan, PTFI menetapkan target penjualan tembaga sebesar 1,1 miliar pon atau sekitar 480.000 ton pada 2026. Angka penjualan logam merah tersebut mencatatkan penurunan sebesar 8,33 persen jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2025 yang menembus 1,2 miliar pon.

Penurunan target juga ditetapkan untuk komoditas emas yang dipatok pada angka 0,83 juta ons atau sekitar 26 ton, alias anjlok 20,95 persen dari capaian 2025 sebesar 1,05 juta ons. Pada kuartal I-2026, realisasi produksi tembaga tercatat sebesar 95 juta pon dan penjualan 82 juta pon, meskipun rata-rata harga jualnya naik 35,7 persen menjadi US$5,89 per pon.

Sementara itu, produksi emas kuartal I-2026 berada di angka 92.000 ons dengan volume penjualan mencapai 116.000 ons. Harga rata-rata penjualan emas pada awal tahun ini melonjak 59,3 persen menjadi US$4.893 per ons dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di pasar global, harga tembaga di London Metal Exchange (LME) berada di posisi US$13.515,50 per ton atau melemah 0,73 persen akibat tekanan inflasi dan biaya energi dari konflik Timur Tengah. Di sisi lain, persediaan tembaga di Bursa Berjangka Shanghai menyusut ke level 169.512 ton karena tingginya permintaan untuk kebutuhan elektrifikasi di China.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author