Houthi Yaman Kembali Tembakkan Rudal ke Israel
Kelompok Houthi di Yaman kembali melancarkan serangan rudal ke arah Israel setelah sempat menahan diri dari aksi militer selama dua bulan terakhir. Langkah eskalasi ini diambil sebagai bentuk dukungan terhadap aliansi mereka di kawasan Timur Tengah.
Aksi militer tersebut diumumkan langsung oleh juru bicara militer Houthi, Yahya Sari, pada Senin (8/6) sebagaimana dilansir dari Detikcom. Selain menembakkan rudal, pihak Houthi juga menyatakan pemberlakuan blokade total terhadap seluruh aktivitas pelayaran yang memiliki keterkaitan dengan Israel di kawasan Laut Merah.
Otoritas Israel mengonfirmasi bahwa upaya serangan dari wilayah Yaman masih terus berlangsung hingga Selasa (9/6). Kendati demikian, sebagian besar serangan tersebut dilaporkan berhasil digagalkan dan tidak ada laporan mengenai kerusakan besar di wilayah Israel.
Kembalinya aktivitas militer Houthi ini dianalisis oleh pakar politik Sanaa Center for Strategic Studies (SCSS), Abdulghani Al-Iryani, yang melihat adanya hubungan erat dengan perkembangan perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.
"Kemajuan pasukan Israel di Lebanon memicu kemarahan besar di kalangan masyarakat Yaman sehingga Houthi merasa harus merespons," kata Al-Iryani.
Al-Iryani menilai serangan tersebut bertujuan memenuhi ekspektasi dari para pendukung domestik Houthi serta mitra aliansi mereka, termasuk Iran. Namun, ia memprediksi kelompok ini tidak akan melakukan blokade total secara masif karena berisiko merusak hubungan ekonomi penting dengan Arab Saudi.
"Menghancurkan hubungan itu sama saja dengan bunuh diri," ujarnya.
Menurut pengamatan Al-Iryani, eskalasi operasi di perairan kemungkinan besar hanya akan menyasar kapal-kapal tertentu secara terbatas.
"Lebih dari itu tampaknya tidak akan dilakukan Houthi."
Sementara itu, wakil direktur Middle East Minds, Christoph Leonhardt, memberikan sudut pandang berbeda mengenai motif di balik serangan rudal tersebut. Leonhardt melihat aksi ini lebih bermakna sebagai unjuk kekuatan politik kepada pihak luar.
"Penembakan ke arah Israel lebih ditujukan untuk memperoleh legitimasi internal dan menunjukkan kekuatan kepada pihak luar daripada mencapai tujuan operasional yang jelas," kata Leonhardt.
Leonhardt menambahkan bahwa keterbatasan kapasitas militer membuat eskalasi konfrontasi langsung dengan Israel cenderung kecil, namun Houthi diprediksi akan tetap aktif mengganggu jalur maritim strategis.
"Karena itu, Houthi kemungkinan tetap akan melakukan operasi yang terbatas tetapi efektif, misalnya di Selat Bab al-Mandab. Sementara eskalasi langsung dengan Israel relatif kecil kemungkinannya karena keterbatasan kapasitas," kata Leonhardt.
Dalam analisisnya, Leonhardt juga menggarisbawahi bahwa posisi geografis Houthi memegang peranan krusial terhadap stabilitas ekonomi internasional melalui ancaman di jalur perdagangan.
"Perluasan aktivitas maritim Houthi dapat semakin mengganggu stabilitas pasokan minyak global dan mendorong kenaikan harga energi," ujarnya.
Lembaga International Crisis Group (ICG) ikut memaparkan bahwa kekuatan militer Houthi masih belum habis meski telah menderita kerugian besar dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok tersebut memanfaatkan momentum konflik ini untuk mengamankan posisi politik domestik dan mengalihkan perhatian publik dari krisis ekonomi di Yaman.