BNI Jaga Fungsi Intermediasi Selektif Usai BI Rate Naik

Share

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI berkomitmen menjaga fungsi intermediasi secara selektif dan produktif demi mendukung sektor riil setelah adanya kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada Kamis, 11 Juni 2026.

Langkah penyesuaian strategi bisnis ini dilakukan untuk menyikapi dinamika kebijakan moneter global sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi nasional, dilansir dari Bloomberg Technoz. Meski pasar bergejolak, perbankan nasional berupaya mempertahankan ruang penyaluran kredit yang aman dan terukur.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menjelaskan bahwa kebijakan bank sentral tersebut sangat dibutuhkan demi mengendalikan inflasi dan memperkuat kepercayaan investor di dalam negeri.

"Kami memandang kenaikan BI Rate sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia. Stabilitas yang terjaga menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan sektor riil maupun industri perbankan," kata Okki, Corporate Secretary BNI.

Manajemen perseroan kini memfokuskan operasional pada efisiensi proses bisnis melalui akselerasi transformasi digital. BNI juga meningkatkan penerapan tata kelola perusahaan yang baik serta memitigasi risiko kredit secara ketat untuk mengantisipasi penurunan permintaan pembiayaan dari sektor-sektor sensitif.

"Kami terus memperkuat governance, manajemen risiko, dan kapabilitas digital agar tetap mampu memberikan layanan terbaik kepada nasabah sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Dengan fondasi yang kuat tersebut, BNI optimistis dapat terus mendukung sektor riil dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia," ucap Okki, Corporate Secretary BNI.

Di sisi lain, Bank Indonesia mengungkapkan bahwa keputusan menaikkan BI Rate dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang melampaui perkiraan awal akibat memanasnya konflik geopolitik global.

"Tentu saja waktu membuat keputusan itu kan ada proyeksi-proyeksi. Nah, setiap minggu, setiap hari Selasa, itu Bank Indonesia melakukan evaluasi pelaksanaannya gimana. Apakah proyeksi ini sejalan atau enggak. Dalam berbagai evaluasi hari ini kita melihat lho kok pelemahan rupiah melebihi yang kita proyeksikan dulu," kata Perry, Gubernur Bank Indonesia.

Evaluasi berkala terus dijalankan oleh Bank Indonesia sesuai dengan amanat undang-undang yang berlaku guna merespons pergerakan nilai tukar rupiah di pasar internasional. Perdagangan luar negeri mencatat rupiah sempat melemah ke level Rp17.955 per dolar AS seiring dengan lonjakan harga minyak mentah dunia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author