Amerika Serikat Batasi Visa Suporter dan Tolak Masuk Wasit Piala Dunia
Pemerintah Amerika Serikat memberlakukan pembatasan imigrasi ketat yang mempersulit seperempat suporter dari negara peserta mendapatkan visa menjelang Piala Dunia 2026.
Kebijakan ketat ini memicu kritik luas setelah otoritas keamanan setempat menolak masuk dan mendeportasi wasit internasional asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, saat tiba di Miami karena tuduhan keterkaitan dengan jaringan terorisme.
Penolakan terhadap Wasit Terbaik Afrika 2025 tersebut dikonfirmasi oleh pejabat senior Gedung Putih era pemerintahan Presiden Donald Trump setelah pemeriksaan dokumen oleh pihak Customs and Border Protection (CBP).
"Setelah pemeriksaan lebih lanjut oleh CBP (Customs and Border Protection), ditemukan informasi yang sifatnya merugikan, termasuk keterkaitan dengan tersangka anggota organisasi teror, yang membuat pelancong tersebut tidak memenuhi syarat untuk masuk ke Amerika Serikat berdasarkan Undang-Undang Imigrasi dan Kewarganegaraan (INA)," ungkap pernyataan pejabat tersebut.
Otoritas imigrasi langsung memulangkan Omar Artan menuju Istanbul sebelum sang wasit kembali ke Mogadishu menggunakan formulir deportasi cepat pasal 8235 INA setelah sempat menjalani proses interogasi selama 11 jam.
"Pelancong tersebut ditolak masuk dan diberi formulir imigrasi yang berisi bagian hukum yang digunakan untuk menyelesaikan deportasi cepat, berdasarkan pasal 8235 INA. Pemerintahan Presiden Trump tidak akan membiarkan ancaman keamanan apa pun untuk memasuki negara kami – titik." ia menambahkan.
Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter mengecam keras tindakan Amerika Serikat tersebut melalui media Prancis L'Equipe dan menilai FIFA di bawah kepemimpinan Gianni Infantino telah mengabaikan prinsip dasar federasi.
"Ketika sebuah negara diberi kehormatan untuk menyelenggarakan Piala Dunia, ada dua aturan yang tak bisa ditawar: keamanan, dan jaminan visa masuk bagi semua pejabat FIFA. Tidak ada yang lebih resmi daripada wasit. Jika sebuah negara menolak masuknya wasit, ini adalah masalah serius, dan turnamen tidak boleh diselenggarakan di sana." kata Sepp Blatter, Presiden FIFA periode 1998-2015.
Blatter mendesak Infantino selaku suksesornya untuk berani bersikap tegas kepada pemerintah Amerika Serikat ketimbang membiarkan intervensi politik mengontrol jalannya kompetisi sepak bola tertinggi di dunia.
"Turnamen ini tidak bisa dihentikan sekarang, tetapi hal ini memalukan… FIFA telah mengabaikan prinsip yang tidak dihormati oleh negara tuan rumah." Blatter menegaskan.
FIFA sendiri mengeluarkan rilis singkat yang menyatakan bahwa badan sepak bola dunia tersebut sama sekali tidak terlibat dalam kebijakan domestik serta prosedur keimigrasian dari negara tuan rumah.
"Presiden saat ini harus menunjukkan bahwa dia lebih kuat dari sahabat karibnya di Gedung Putih.. Ketika Anda mulai membiarkan politik mengendalikan Anda, itu hal yang buruk, dan federasi-federasi lain juga harus memprotes." tutur Blatter menyindir relasi Infantino dan Trump.
Blatter yang kini telah menginjak usia 90 tahun mengaku tetap antusias untuk menyaksikan seluruh pertandingan Piala Dunia melalui layar televisi di rumahnya meskipun kecewa dengan dinamika organisasi saat ini.
"I saya tidak lagi memiliki seluruh kemampuan gerak saya, tapi saya masih memiliki sebagian akal sehat saya.. Saya baik-baik saja, saya bahagia, saya memiliki televisi sebesar lapangan sepak bola dan akan menonton Piala Dunia, karena sepak bola adalah hidup saya." ucap Blatter bernada kelakar.
Tokoh sepak bola asal Swiss tersebut menutup pernyataannya dengan kepasrahan mengenai kondisi manajemen sepak bola modern saat ini.
"Saya tidak selalu puas dengan apa yang terjadi, tapi saya tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengubah apa pun." tutup Blatter.
Selain permasalahan wasit, laporan BBC mengungkap adanya pembatasan visa turis bagi 39 negara yang menyebabkan suporter sepak bola kawakan seperti Paco asal Senegal gagal berangkat menonton Piala Dunia tahun ini.
Perlakuan diskriminatif imigrasi AS juga dirasakan langsung oleh skuad timnas Senegal yang diinspeksi menggunakan metal detector di landasan pacu Bandara Raleigh pada Minggu (7/6), sangat kontras dengan sambutan hangat tanpa pemeriksaan ketat yang diterima timnas Spanyol saat tiba di Chattanooga pada Jumat (5/6) maupun ketika mendarat di Meksiko pada Senin (8/6).