Gianni Infantino Bela Harga Tiket Piala Dunia 2026

Share

Presiden FIFA Gianni Infantino membela kebijakan harga tiket Piala Dunia 2026 dalam konferensi pers di Meksiko pada Rabu, 10 Juni 2026, menjelang laga pembuka kompetisi tersebut.

Langkah pembelaan ini diambil Infantino menyusul kritik publik terhadap harga tiket turnamen 48 negara itu yang dimulai dari 140 dolar AS hingga mencapai 32.970 dolar AS untuk laga final.

Menurut laporan journal-news.com, FIFA akhirnya menawarkan tiket seharga 60 dolar AS kepada federasi nasional setelah menerima banyak kritik terkait aksesibilitas harga tersebut.

Infantino menegaskan bahwa rata-rata harga tiket turnamen ini masih berada di bawah angka 500 dolar AS, yang menurutnya sebanding dengan biaya menonton olahraga di Amerika Serikat.

Selain masalah tiket, Infantino juga menyoroti ketatnya proses pemeriksaan keamanan serta kebijakan visa dari otoritas Amerika Serikat yang berdampak pada suporter, jurnalis, dan perangkat pertandingan.

Analisis data perjalanan oleh BBC menunjukkan bahwa para pendukung dari seperempat total negara peserta menghadapi pembatasan perjalanan, aturan ketat, atau tingkat penolakan visa yang tinggi.

Kebijakan imigrasi Amerika Serikat berdampak langsung pada penggemar dari empat negara peserta, yaitu Iran, Haiti, Senegal, dan Pantai Gading, yang menghadapi larangan perjalanan penuh atau sebagian.

Masalah visa ini juga berdampak pada perangkat pertandingan setelah FIFA mencoret Omar Artan, wasit pertama asal Somalia yang dijadwalkan memimpin di Piala Dunia, akibat ditolak masuk ke Amerika Serikat.

Asosiasi Pers Olahraga Internasional turut melayangkan protes resmi terkait penolakan visa masuk bagi para jurnalis terakreditasi yang hendak meliput turnamen ini.

Terkait kendala visa tersebut, Infantino meminta semua pihak untuk memercayai kinerja FIFA di balik layar dalam mengupayakan solusi terbaik bagi kelancaran turnamen.

"It’s not easy when you have 300,000 accredited people, majority of which from outside of the US, to process them to vet them, you don’t know. Unfortunately, our world is a very aggressive world and security goes above everything and you need to respect the decisions which are taken and when I say to chill, I don’t mean to chill and do nothing." kata Gianni Infantino, Presiden FIFA.

Infantino menambahkan bahwa organisasi yang dipimpinnya selalu berupaya membuat situasi menjadi sepositif mungkin dan aktif mencari jalan keluar di tengah berbagai tantangan logistik keamanan.

"I mean to trust us, that we are working behind the scenes, we are trying to understand and there are things we can know, things we cannot know, things we are told, not told." tutur Gianni Infantino, Presiden FIFA.

Pihak FIFA juga menyatakan kepuasan mereka karena berhasil memastikan tim nasional Iran dapat berpartisipasi dan bertanding di Amerika Serikat meskipun tensi politik kedua negara sedang tinggi.

"We always try to make the situation as positive as possible and to find solutions. Sometimes we manage, other times not." ucap Gianni Infantino, Presiden FIFA.

Kehadiran Iran dalam turnamen di Amerika Utara ini dinilai Infantino sebagai sebuah pencapaian besar yang membuktikan kekuatan olahraga di tengah realitas dunia yang rumit.

"I think it has already been successful to bring Iran to play in America. I don't know who would have managed to do that, and of course, everyone here believes it's the right thing to do but again we don't live on the moon; we live on planet earth and you have to deal with different situations. We try to do our best and I hope we’ll have some good news." ujar Gianni Infantino, Presiden FIFA.

Infantino mengenang momen kunjungan langsungnya saat menemui tim nasional Iran di Turki pada Maret 2026 untuk memberikan jaminan keikutsertaan mereka.

"Let me say that on Iran, I am very happy because I went to see the Iranian team in Turkey in March this year." cetus Gianni Infantino, Presiden FIFA.

Komitmen tersebut dijaga FIFA demi mempertahankan semangat sepak bola agar seluruh negara yang lolos kualifikasi dapat bertanding tanpa hambatan eksternal.

"People were saying Iran couldn't come to the World Cup, I promised them they will come and if I have to go on a bus to Tehran and drive them here I will do that. Their answer was we will take the bus and drive ourselves if needs be. We qualified and we want to play. This is the spirit of football. There are challenges, it's not easy, but I don't know who else would have been able to ensure in these circumstances – which we could not influence – Iran could come and play. When Iran plays, the stadium will be full and I hope there will be a positive atmosphere because this is football, it's about people forgetting their realities and focusing on a match and a team." papar Gianni Infantino, Presiden FIFA.

Manajemen FIFA mengapresiasi kerja keras seluruh tim internal yang berhasil mengawal proses kedatangan timnas Iran hingga siap bertanding di stadion.

"I am very happy we managed to get Iran to come and play. I am proud of the work of my team." pungkas Gianni Infantino, Presiden FIFA.

Isu pembatasan perjalanan ke Amerika Serikat ini sebetulnya telah menjadi perhatian FIFA sejak periode pertama pemerintahan Donald Trump pada tahun 2017.

Kala itu, Infantino mengingatkan bahwa kebijakan pembatasan perjalanan dapat memengaruhi kelayakan suatu negara untuk menjadi tuan rumah turnamen resmi FIFA.

"It's obvious when it comes to Fifa competitions, any team, including the supporters and officials of that team, who qualify for a World Cup need to have access to the country, otherwise there is no World Cup," tegas Gianni Infantino, Presiden FIFA.

Sikap vokal Infantino menjelang turnamen bukan pertama kali terjadi, mengingat ia juga sempat mengkritik balik negara-negara Barat saat Piala Dunia 2022 di Qatar.

Dalam konferensi pers di Doha empat tahun lalu, Infantino menyampaikan pembelaan panjang atas kritik media Barat terhadap catatan hak asasi manusia di Qatar.

"Today I have strong feelings. Today I feel Qatari, I feel Arab, I feel African, I feel gay, I feel disabled, I feel a migrant worker." sebut Gianni Infantino, Presiden FIFA.

Ia menyatakan bahwa negara-negara Eropa seharusnya berkaca pada sejarah mereka sendiri sebelum berfokus pada isu-isu pekerja migran di negara tuan rumah.

"I have difficulties understanding the criticism. We have to invest in helping these people, in education and to give them a better future and more hope. We should all educate ourselves. Many things are not perfect but reform and change takes time." tambah Gianni Infantino, Presiden FIFA.

Menurut pandangan Infantino, kritik sepihak yang diarahkan kepada tuan rumah sering kali mengabaikan perkembangan positif yang telah dicapai sejak proses persiapan dimulai.

"This one-sided moral lesson is just hypocrisy. I wonder why no-one recognises the progress made here since 2016." nilai Gianni Infantino, Presiden FIFA.

Di tengah berbagai penyelidikan oleh jaksa agung di beberapa negara bagian Amerika Serikat terkait penyelenggaraan, Infantino menyatakan tidak khawatir dan tetap menyebut turnamen 2026 sebagai acara terbesar dalam sejarah umat manusia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author