Hindari 5 Jenis Ikan Ini Saat Membuat Sushi Menurut Ahli
Sushi sangat identik dengan penggunaan potongan ikan sebagai pelengkap utamanya. Namun, tidak semua jenis ikan cocok digunakan untuk hidangan khas Jepang ini karena beberapa alasan keamanan dan tekstur.
Dilansir dari Detik Food yang mengutip Chouwhound, dua orang ahli bernama Michael Morales dan Kotaro Ko Sunagawa mengungkapkan lima jenis ikan yang sebaiknya dihindari saat membuat sushi.
Ikan todak atau swordfish memiliki karakteristik daging yang padat, tanpa lemak, serta cenderung terasa bersih. Jenis ikan yang tidak memiliki sisik ini sebenarnya sangat ideal untuk diolah dengan cara dipanggang atau dijadikan steak.
Namun, tekstur daging yang terlalu padat tersebut membuatnya tidak cocok dijadikan sushi. Menurut Michael Morales, tekstur yang keras ini dapat mengurangi sensasi kelembutan yang seharusnya ada pada sushi.
Jika tetap ingin menggunakan ikan todak, para pembuat sushi disarankan untuk memotong daging ikan secara tipis-tipis. Langkah lainnya adalah menyajikannya dalam bentuk campuran, bukan sebagai potongan utuh.
2. Mahi-mahi
Mahi-mahi merupakan ikan yang identik dengan hidangan khas Hawaii. Ikan ini memiliki daging yang padat dengan aroma cenderung ringan, serta kulit keras yang berfungsi menjaga keutuhan daging saat dimasak.
Tekstur daging yang kenyal membuat mahi-mahi lebih cocok diolah dengan metode goreng atau panggang. Rasanya yang sedikit manis dan lembut membuat ikan ini sering disajikan di berbagai restoran dengan beragam bumbu.
Meski begitu, Michael Morales menjelaskan bahwa mahi-mahi tidak cocok untuk sushi karena teksturnya terlalu keras. Karakteristik ini membuat mahi-mahi gagal memberikan sensasi lumer di mulut penikmatnya.
Selain masalah tekstur, mahi-mahi kurang umum dipilih karena memiliki risiko tinggi menyebabkan keracunan histamin. Ikan ini cepat mengalami degradasi bakteri yang menghasilkan racun, sehingga berbahaya jika dikonsumsi mentah.
3. Ikan Buntal
Ikan buntal atau blowfish termasuk jenis hidangan yang dihargai tinggi di Jepang. Ikan ini sebenarnya bisa dinikmati dalam keadaan mentah dengan irisan tipis sebagai bagian dari menu sushi.
Walakin, penanganan ikan buntal dalam makanan harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Ikan ini mengandung neurotoksin kuat, di mana hanya 2 hingga 3 miligram saja sudah bisa menyebabkan kelumpuhan hingga kematian.
Oleh karena itu, hanya chef yang memiliki sertifikasi khusus yang diizinkan mengolahnya. Melalui pembersihan yang teliti, mereka dapat memisahkan daging yang lembut dan aman untuk dimakan.
4. Makarel Mentah
Ikan makarel sering kali muncul dalam menu sushi di Jepang, baik dalam kondisi mentah maupun matang. Untuk menu sushi, biasanya daging makarel mentah akan diasamkan ringan menggunakan cuka beras dan garam terlebih dahulu.
Namun, Ko Sunagawa menyarankan agar makarel dihindari dalam keadaan mentah karena memiliki kandungan parasit yang tinggi. Jenis makarel yang biasanya berasal dari Norwegia ini sebaiknya disajikan matang untuk membunuh parasit.
"Makarel, biasanya dari Norwegia, selalu harus dinikmati dalam keadaan matang, karena proses ini membunuh semua parasit," ujarnya.
Sebagai alternatif aman, saat ini sudah banyak variasi sushi makarel yang diolah dengan cara dipanggang atau dibakar. Langkah ini sekaligus membuat tampilan hidangan menjadi lebih menarik.
Sementara itu, Michael Morales memberikan rekomendasi lain untuk mengurangi risiko bahaya parasit jika tetap ingin memakannya mentah. Menurutnya, ikan makarel bisa dibekukan terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.
5. Salmon Liar
Salmon merupakan salah satu bahan paling populer dalam hidangan sushi. Meski demikian, tidak semua jenis salmon aman dan cocok untuk disajikan mentah di atas nasi cuka.
Salmon yang ditangkap di alam liar perlu dihindari karena rentan membawa parasit berbahaya. Selain itu, salmon liar tidak memiliki lapisan lemak yang cukup banyak sehingga terasa kering di mulut.
Kondisi ini berbeda dengan salmon hasil budidaya atau peternakan yang teksturnya lebih meleleh. Salmon budidaya jauh lebih aman dikonsumsi karena lingkungan hidupnya dikontrol ketat agar terbebas dari parasit.