Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Beberkan Strategi Pengendalian Inflasi 2027
Target pengendalian inflasi untuk tahun depan telah ditetapkan oleh pemerintah dalam rentang 1,5% hingga 3,5%. Langkah strategis ini ditempuh melalui penguatan sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter demi menjaga stabilitas harga komoditas utama, khususnya sektor pangan serta energi.
Seperti dikutip dari Bloomberg Technoz, pemerintah bergerak aktif dalam meredam potensi risiko imported inflation. Upaya ini dilakukan lewat koordinasi intensif bersama bank sentral serta optimalisasi peran tim pengendalian inflasi di tingkat pusat maupun daerah.
“Koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter terus diperkuat untuk memastikan kebijakan fiskal dan moneter berjalan selaras tanpa menimbulkan crowding out effect sehingga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan dapat dijaga untuk turut menopang pertumbuhan ekonomi,” kata Purbaya dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (10/6/2026).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), laju inflasi tahunan pada Mei 2026 telah menyentuh angka 3,08% (year-on-year/yoy). Kondisi tersebut memperlihatkan pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat dari 108,07 pada Mei 2025 menjadi 111,4 pada Mei 2026.
Realisasi pergerakan angka tersebut tercatat lebih tinggi jika dibandingkan dengan proyeksi konsensus sebelumnya yang memperkirakan inflasi Mei 2026 berada di level 2,94% (yoy). Tren kenaikan ini juga memperlihatkan lonjakan dari realisasi inflasi bulan April yang berada pada posisi 2,42%.
Tekanan kenaikan harga pada periode ini terdeteksi tidak lagi didominasi oleh sektor pangan saja. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memicu kenaikan harga yang meluas hampir ke seluruh kelompok pengeluaran masyarakat.
Data BPS merinci kenaikan pada kelompok makanan dan minuman sebesar 4,94%, sektor transportasi naik 2,3%, dan restoran sebesar 2,24%. Selain itu, sektor kesehatan mengalami peningkatan 1,70%, pendidikan naik 1,15%, serta kelompok perawatan pribadi melonjak hingga 10,35%.
Pemerintah juga telah menyusun sejumlah indikator ekonomi makro utama sebagai fondasi kuat dalam menjaga ketahanan fiskal negara.
Suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) untuk tenor 10 tahun direncanakan bergerak pada kisaran 6,5% hingga 7,3%. Sementara itu, defisit APBN 2027 akan ditekan dan dijaga ketat pada rentang 1,80% hingga batas maksimal 2,40% dari Produk Domestik Bruto (PDB), angka yang lebih rendah dari realisasi defisit APBN 2025 sebesar 2,92%.
Target pendapatan negara diproyeksikan mencapai 11,82% hingga 12,40% dari PDB. Untuk membiayai berbagai program prioritas nasional, alokasi belanja negara ditetapkan berada pada kisaran 13,62% hingga 14,80% dari PDB.
Pertumbuhan ekonomi nasional dipatok pada target 5,8% hingga 6,5% sebagai pijakan awal menuju target capaian 8% pada tahun 2029. Pada sektor ketahanan energi, postur anggaran akan disokong oleh asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada kisaran US$70 hingga US$95 per barel.
Pemerintah menetapkan target untuk lifting minyak bumi berada di angka 602.000 hingga 615.000 barel per hari (bpd). Sedangkan untuk target lifting gas bumi dipatok sebesar 934.000 hingga 977.000 barel setara minyak per hari.