Restoran Michelin Climat di Manchester Tutup Akibat Badai Krisis Ekonomi

Share

Kondisi ekonomi dunia yang tidak menentu memberikan dampak besar bagi para pemilik usaha kuliner. Tekanan inflasi dan krisis biaya hidup akhirnya menekan daya beli masyarakat serta melonjakkan biaya operasional.

Banyak pemilik usaha kuliner termasuk restoran berbintang Michelin memilih mundur akibat situasi ini. Mereka kesulitan mempertahankan standar tinggi serta terhambat balik modal akibat lonjakan harga bahan baku premium.

Salah satu tempat yang terdampak adalah Climat, sebuah restoran yang berlokasi di Manchester, Inggris. Seperti dilansir dari Detik Food, restoran di pusat kota Manchester tersebut kini telah memutuskan untuk ditutup secara permanen.

Restoran Climat pertama kali beroperasi pada November 2022. Tempat ini berhasil masuk dalam panduan rekomendasi Michelin karena menyajikan masakan Prancis, menyediakan 400 pilihan jenis wine, serta memiliki pemandangan rooftop yang memikat.

Popularitas restoran ini juga dikenal sebagai lokasi berkumpulnya para selebriti dunia hingga mantan pesepakbola legendaris, David Silva, menurut laporan thesun.co.uk (1/5). Namun, popularitas tersebut kini berakhir dengan penutupan.

Pemilik Climat, Christopher Laidler, mengumumkan penutupan segera tempat usahanya tersebut dengan berat hati melalui pernyataan di media sosial.

"Sayangnya, kita adalah korban lain dari zaman yang kita jalani sekarang," ujarnya.

Christopher Laidler menjelaskan bahwa krisis biaya hidup yang terus berlanjut dan kenaikan harga makanan menjadi penyebab utama. Inflasi pangan yang merajalela serta peningkatan beban pajak bagi usaha kecil dinilai menciptakan badai sempurna bagi industri perhotelan dan restoran.

Biaya listrik restoran Climat melonjak hingga mencapai £112.000 atau sekitar Rp 2,6 miliar untuk 13 bulan pertama operasional. Total tagihan fantastis ini membengkak hingga 400% dari anggaran yang telah mereka tetapkan sebelumnya.

Beban operasional kian berat setelah terjadi kenaikan gaji staf sebesar 33%. Selain itu, pajak usaha juga melonjak drastis dari £12.000 (Rp 288.565.837) per tahun menjadi £38.000 (Rp 913.791.817) per tahun.

"Semua peningkatan ini, di samping penurunan jumlah pengunjung, akan menjadi bencana bagi banyak orang," ujar pemilik restoran tersebut.

Pada bagian akhir pernyataannya, Christopher Laidler menyampaikan apresiasi atas kerja keras timnya selama 3,5 tahun terakhir. Dia menegaskan bahwa keputusan penutupan ini sama sekali tidak mencerminkan upaya dan dedikasi yang telah diberikan oleh para staf.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author