Wabah Ebola di Kongo Ganggu Persiapan Piala Dunia 2026
Sebanyak 91 orang meninggal dunia di Republik Demokratik Kongo akibat wabah virus Ebola varian Bundibugyo yang kini mengganggu persiapan tim nasional sepak bola negara tersebut menjelang laga pembuka Piala Dunia pada 17 Juni mendatang, seperti dilansir dari Detikcom.
Data terkini dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per 6 Juni menunjukkan ada 515 kasus terkonfirmasi di Kongo dan 19 kasus di Uganda dengan dua kematian. Akibat situasi ini, Amerika Serikat memberlakukan aturan karantina 21 hari bagi warga non-AS yang sempat mengunjungi Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan.
Kebijakan pengetatan tersebut memaksa tim sepak bola Kongo memindahkan lokasi pemusatan latihan mereka ke Belgia, meskipun pusat wabah sebenarnya terisolasi di Provinsi Ituri yang berjarak ribuan kilometer dari ibu kota Kinshasa.
Spesialis penyakit menular dari Institute of Tropical Medicine, Isabel Brosius, memberikan gambaran mengenai dampak psikologis dari krisis kesehatan ini terhadap masyarakat Kongo yang sedang mengalami konflik internal.
"Ebola bisa menjadi penyakit yang sangat menakutkan. Tentu saja, ketika hal ini terjadi pada populasi yang kurang memiliki literasi kesehatan yang memadai, ini sangat meresahkan. Orang-orang mulai bertanya-tanya mengapa ini terjadi atau apa penyebabnya. Kemudian, jika ada ketidakpercayaan yang mengakar terhadap pemerintah atau pihak lain, ditambah adanya berita hoaks atau pesan palsu, hal ini hanya akan memperparah rasa tidak aman secara umum," kata Isabel Brosius, Spesialis Penyakit Menular.
Meski memicu kekhawatiran, ia menambahkan bahwa risiko penularan virus secara internasional melalui pergerakan suporter atau pemain selama turnamen berlangsung dinilai sangat minim.
"Sama seperti yang kita lihat pada tahun 2014-2016 saat wabah Ebola terbesar yang pernah kita saksikan, kemampuan penyebaran internasional dan pembentukan penularan lokal di negara lain melalui perjalanan udara, dan lain-lain…, sebenarnya cukup terbatas," jelas Isabel Brosius, Spesialis Penyakit Menular.
Ia menerangkan bahwa virus Ebola menuntut kontak langsung dengan pasien atau area yang tercemar dan tidak menular lewat percikan udara.
"Risiko bagi para suporter yang datang menonton pertandingan di salah satu dari tiga negara tuan rumah, atau para pemain terpapar virus ini, menurut saya, hampir mendekati nol," tambah Isabel Brosius, Spesialis Penyakit Menular.
Perubahan jadwal pertandingan juga melanda timnas Kongo setelah otoritas Spanyol membatalkan laga persahabatan melawan Chile atas alasan kesehatan publik, sehingga pertandingan digeser ke Orleans, Prancis secara tertutup pada Selasa (09/06).
"Satu-satunya hal yang bisa saya katakan adalah kami sudah terbiasa beradaptasi, dan apa pun yang terjadi, kami tidak akan kesulitan menyesuaikan diri dengan semua situasi ini," ujar Sebastien Desabre, Pelatih Kongo.
AS, Kanada, dan Meksiko selaku tuan rumah bersama telah menyepakati prosedur kesehatan seragam bagi pelancong dari Afrika. Kanada menerapkan larangan masuk 90 hari bagi warga dari negara terdampak, sedangkan Meksiko memperketat pemeriksaan bandara dan karantina 21 hari.
Kondisi pembatasan ini menyulitkan pendukung Kongo untuk hadir langsung di stadion, memicu respons dari pihak federasi sepak bola domestik.
"Kami meminta FIFA apakah hal ini dapat dipertimbangkan karena harga tiketnya cukup mahal," kata Veron Mosengo-Omba, Presiden Federasi Sepak Bola Kongo (FECOFA).
Ia berharap para suporter yang telah mengeluarkan banyak biaya tidak kehilangan hak dan kesempatan mereka akibat regulasi karantina tersebut.
"Mereka dirugikan karena tidak dapat masuk (ke Amerika Serikat) untuk menonton Piala Dunia guna mendukung tim mereka," kata Veron Mosengo-Omba, Presiden Federasi Sepak Bola Kongo (FECOFA).
Pihak federasi terus mengupayakan solusi agar para penggemar sepak bola dari negaranya tidak menanggung kerugian total akibat pembatasan ini.
"Kami tidak ingin pendukung kami yang mencintai sepak bola, yang mencintai Piala Dunia, kehilangan segalanya," tutup Veron Mosengo-Omba, Presiden Federasi Sepak Bola Kongo (FECOFA).
Menanggapi permintaan pengembalian dana tiket tersebut, FIFA menyatakan akan melakukan investigasi mendalam terhadap permasalahan ini pada waktu yang tepat.