Perang Timur Tengah Menguras Cadangan Minyak Mentah Global

Share

Penyusutan cadangan minyak mentah dan produk olahan global mencetak rekor baru pada Mei 2026 akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang menyumbat pasokan. Penurunan persediaan yang terlihat ini mencapai 8,7 juta barel per hari, atau melonjak hampir dua kali lipat dari laju rata-rata sejak awal krisis.

Kondisi pasar fisik yang terus mengetat ini dipicu oleh hambatan besar pada jalur distribusi laut utama dunia, dilansir dari Bloombergtechnoz pada Kamis (21/5/2026).

"Pasar fisik terus mengetat, karena perkiraan ekspor minyak melalui selat tersebut tetap sangat rendah, yaitu 5% dari normal," kata Yulia Zhestkova Grigsby dan Daan Struyven, Analis Goldman Sachs Group Inc.

Ketegangan geopolitik tersebut memicu guncangan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar energi global. Pemerintah di berbagai negara terpaksa mengoordinasikan pelepasan cadangan strategis demi meredam lonjakan harga, sementara simpanan komersial terkuras habis.

"sangat kekurangan pasokan" kata Fatih Birol, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA).

IEA memproyeksikan situasi kelangkaan pasokan ini akan bertahan setidaknya hingga Oktober 2026, meskipun konflik bersenjata mereda dalam waktu dekat. Sebagian besar penurunan cadangan global didorong oleh berkurangnya volume komoditas yang sedang diangkut di jalur laut.

"oil on water" kata Analis Goldman Sachs Group Inc.

Penurunan impor kini telah meluas dari kawasan Asia hingga ke Eropa, di mana pasokan bahan bakar jet ke Benua Biru anjlok hingga 60 persen di bawah rata-rata tahun 2025. Di sisi lain, China sebagai importir terbesar menunjukkan penurunan minat beli akibat pelemahan aktivitas ekonomi domestik yang memicu penurunan penjualan bahan bakar lokal sebesar 22 persen bulan lalu.

Sementara itu, cadangan minyak nasional Amerika Serikat termasuk Cadangan Minyak Strategis menyusut 17,8 juta barel pekan lalu akibat rekor ekspor. Stok di pusat distribusi Cushing, Oklahoma, bahkan dilaporkan kian mendekati batas minimum operasional tangki penyimpanan.

"Musim liburan AS dimulai akhir pekan ini, yang mengindikasikan adanya dorongan positif bagi permintaan bensin, solar, dan bahan bakar jet," kata Analis Goldman Sachs Group Inc.

Pengetatan pasokan global ini menjaga pergerakan harga minyak mentah jenis Brent di kisaran US$106 per barel. Nilai tersebut mencerminkan kenaikan lebih dari 70 persen sejak awal tahun, walau masih berada di bawah rekor tertinggi masa perang yang sempat menembus US$126 per barel.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author