IHSG Ditutup Menguat 2,34 Persen pada Perdagangan Sesi I

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan Sesi I di zona hijau. Lonjakan performa sejumlah saham bank berkapitalisasi besar menjadi tumpuan utama yang mendorong pergerakan indeks.

Dikutip dari Bloombergtechnoz, IHSG bertengger di level 5.881,23 pada akhir Sesi I. Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 2,34% atau bertambah 134,58 poin dari posisi penutupan pada hari sebelumnya.

Apresiasi juga melanda indeks LQ45 yang merangkum saham-saham berkapitalisasi besar. Indeks ini mencatatkan penguatan 2,46% atau naik 14 poin menuju level 583,32.

Di sepanjang jam perdagangan, IHSG konsisten bergerak di zona hijau dengan rentang pergerakan antara level terendah 5.677,96 hingga level tertinggi 5.939. Nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp19,94 triliun dengan volume perdagangan 31,68 billion saham.

Kondisi positif ini diikuti oleh penguatan nilai tukar rupiah yang terapresiasi 0,48% ke posisi Rp17.973/US$ pada pukul 12:50 WIB. Sebanyak 543 saham bergerak menguat, 151 saham melemah, dan 118 saham tidak mengalami perubahan harga.

Sektor teknologi memimpin lonjakan dengan kenaikan mencapai 4,29%. Sektor keuangan dan transportasi menyusul dengan penguatan masing-masing sebesar 3,33% dan 3,18%, sedangkan sektor properti tumbuh 2,64% secara point-to-point.

Pada sektor finansial, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) memimpin dengan kenaikan 7,65%. Diikuti oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang melonjak 5,84%, serta PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) yang menguat 3,83%.

Emiten perbankan pelat merah lainnya juga mencatatkan kinerja positif. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melejit 2,15%, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkerek naik sebesar 1,96%.

Kondisi pasar modal domestik ini berbanding terbalik dengan mayoritas bursa saham di Asia yang melemah. Indeks KOSPI, TW Weighted Index, Shenzhen Comp., NIKKEI 225, KOSDAQ, Topix, CSI 300, Straits Times, Hang Seng, SETI, Shanghai Composite, dan PSEi kompak berada di zona merah.

Geliat saham perbankan ini terjadi sehari setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%. Langkah ini diambil guna memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari tekanan sentimen global.

Selain itu, penyesuaian BI Rate bertujuan mengendalikan inflasi pada periode 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam target sasaran. Kebijakan ini diharapkan mampu mendongkrak imbal hasil instrumen keuangan domestik demi menarik aliran modal asing masuk.

Bank Sentral Indonesia turut mengoptimalkan operasi moneter dan menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk seluruh tenor. Panin Sekuritas menilai kebijakan ini dapat memicu ekspektasi stabilitas nilai tukar rupiah yang lebih kokoh ke depan.

Kutipan analisis terbaru dari Panin Sekuritas memaparkan proyeksi kelanjutan kebijakan moneter tersebut.

“Serta kami menilai bahwa BI Rate berpotensi akan kembali dinaikkan pada RDG Bulanan 17-18 Juni 2026 sebesar 25 bps menjadi 5,75%,” terang Panin Sekuritas dalam catatan terbarunya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author