Kenaikan Harga Pertamax Belum Mampu Picu Migrasi Massal ke Mobil Listrik
Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang resmi berlaku hari ini ternyata tidak serta-merta menjadi angin segar bagi industri kendaraan listrik. Harapan agar masyarakat segera berpaling dari kendaraan konvensional menuju
electric vehicle
(EV) tampaknya masih harus berbenturan dengan realitas di lapangan.
Pengamat otomotif Bebin Djuana mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan bakar belum bisa menjadi daya dorong tunggal yang memicu masyarakat untuk beralih menggunakan mobil listrik. Menurutnya, proses transisi dari kendaraan berbasis
Internal Combustion Engine
(ICE) menuju EV membutuhkan penyesuaian yang jauh lebih kompleks daripada sekadar kalkulasi pengeluaran harian untuk bensin atau diesel.
"Masyarakat masih terpengaruh dengan ketidak jelasan harga jual kembali, kehandalan mesin, lalu perubahan gaya hidup, hingga harus menyesuaikan diri dengan ketersediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU)," ungkap Bebin Djuana, Pengamat Otomotif.
Bebin menilai persoalan ini tidak bisa dilihat dari satu sisi ekonomi konsumen kelas atas saja. Situasi di berbagai daerah menunjukkan bahwa tantangan pemenuhan kebutuhan energi di tingkat akar rumput jauh lebih krusial, sehingga kebijakan sektor ini memerlukan sensitivitas yang lebih mendalam dari pihak regulator.
"Sekarang baru kenaikan harga per liter, apakah bisa membayangkan jika sampai terjadi kelangkaan BBM? Sudah terjadi antrian panjang di Kalimantan dan pulau-pulau lain bahkan sampai nelayan sulit melaut," tambah Bebin Djuana, Pengamat Otomotif.
Di samping hambatan psikologis dan infrastruktur bagi calon konsumen EV, dinamika harga energi ini juga membawa dampak buruk bagi pasar kendaraan secara keseluruhan. Sektor manufaktur dan distribusi kendaraan bermotor diprediksi akan menghadapi masa-masa sulit dalam sisa tahun ini.
"Jelas industri otomotif terganggu dan akan semakin parah, karena sebagian besar volume penjualan masih bergantung pada kendaraan jenis ICE," tambah Bebin Djuana, Pengamat Otomotif.
Gelombang penyesuaian harga ini bermula ketika pemerintah memutuskan untuk mengatrol harga BBM nonsubsidi. Berdasarkan data resmi dari situs PT Pertamina Patra Niaga, harga Pertamax (RON 92) untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya melonjak tajam menjadi Rp16.250 per liter, naik signifikan sebesar Rp3.950 dari harga sebelumnya yang tertahan di angka Rp12.300 per liter sejak awal Juni.
Langkah penyesuaian ini melengkapi rangkaian kenaikan komoditas BBM nonsubsidi lain yang sebenarnya sudah bergerak naik sejak pertengahan April lalu. Selain Pertamax biasa, varian Pertamax Green (RON 95) kini bertengger di angka Rp17.000 per liter dari yang sebelumnya Rp12.900 per liter. Sementara itu, Pertamax Turbo tidak mengalami perubahan dan tetap dijual Rp20.750 per liter, disusul lini Solar nonsubsidi seperti Pertamina Dex di angka Rp24.800 per liter serta Dexlite seharga Rp23.000 per liter.
Guna menjaga daya beli masyarakat luas, pemerintah sejauh ini memilih untuk tidak mengusik harga BBM bersubsidi. Jenis Pertalite (RON 90) terpantau masih bertahan di angka Rp10.000 per liter, begitu pula dengan Solar bersubsidi yang tidak mengalami perubahan tarif dan tetap disalurkan dengan harga Rp6.800 per liter.