Kemendiktisaintek Usut Dugaan Pemalsuan Riset Empat Alumni UNY

Share

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama BRIN dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memeriksa empat warga negara Indonesia terduga pelaku pemalsuan riset internasional pada Jumat (12/6/2026) mendatang.

Langkah tegas ini diambil menyusul laporan mengenai fabrikasi data penelitian ilmiah yang dipresentasikan dalam forum internasional, seperti dilansir dari Detikcom pada Rabu (10/6/2026).

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengonfirmasi bahwa tim investigasi gabungan telah dibentuk dan dipimpin oleh Pelaksana Tugas Inspektur Jenderal Kemendiktisaintek, Nur Syarifah, guna menyelidiki pelanggaran akademik serius tersebut.

Pihak kementerian mengonfirmasi bahwa keempat terduga pelaku merupakan lulusan program sarjana strata satu dari UNY, namun mereka saat ini statusnya bukan merupakan dosen di perguruan tinggi.

"Sudah (dimintai keterangan) oleh UNY. Jumat ini akan dimintai keterangan oleh tim bersama Kemdiktisaintek, BRIN dan UNY," kata Mediktisaintk Brian Yuliarto saat dihubungi, Rabu (10/6/2026).

Mendikti Brian Yuliarto menegaskan bahwa tindakan ini sangat penting dilakukan karena kasus tersebut berpotensi merusak reputasi ilmiah Indonesia di tingkat global.

"Integritas akademik merupakan fondasi utama kemajuan ilmu pengetahuan. Kepercayaan publik terhadap hasil riset dibangun melalui kejujuran, akuntabilitas, dan kepatuhan terhadap etika ilmiah. Karena itu, setiap dugaan pelanggaran yang berpotensi merusak kredibilitas riset Indonesia harus ditindaklanjuti secara serius dan objektif," kata Brian.

Hingga kini, Kemendiktisaintek dan BRIN terus melakukan pendalaman administratif dan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk mengkaji potensi delik pidana serta sanksi pembatasan fasilitas bagi para pelaku.

"Terkait dengan tadi permasalahan kasus beberapa orang yang melakukan pembohongan riset, ini kami sudah membentuk tim dan sudah berkoordinasi dengan UNY. Bahwa benar empat orang itu, tadi seperti yang ditanyakan, bahwa benar empat orang itu lulusan S1-nya adalah UNY. S2-nya berbeda-beda," kata Brian dalam rapat.

Berdasarkan hasil pemeriksaan awal kementerian, ditemukan indikasi penyalahgunaan nama institusi UNY secara ilegal, penggunaan afiliasi lembaga lain tanpa wewenang, hingga pencatutan identitas peneliti lain.

Kasus ini mencuat ke publik setelah seorang peneliti mengungkapkan kecurangan terorganisir yang terjadi dalam konferensi internasional ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark, yang berlangsung pada 17 hingga 21 Mei 2026.

"Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia. Hal ini terungkap di konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli pneumonia di seluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark," tulis Mandhara Brasika di akun Threads-nya, Rabu (27/5).

Kelompok periset yang dilaporkan tersebut mempresentasikan karya ilmiah impresif yang diduga kuat dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI) tanpa adanya penelitian riil di lapangan.

"Salah seorang pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag. Yang lebih gila… Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di generate AI, gambar dan tulisannya juga," lanjutnya.

Tim investigasi gabungan kini fokus merampungkan pengumpulan bukti dari seluruh pihak terkait sebelum menetapkan langkah hukum berikutnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author