Harga Emas Antam 10 Juni 2026 Turun Menjadi Rp 2.713.000 Per Gram
Harga emas Logam Mulia produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) mengalami penurunan pada perdagangan hari ini, seperti dilansir dari Bloomberg Technoz.
Pada Rabu (10/6/2026), harga emas Antam berada di angka Rp 2.713.000 per gram. Nilai tersebut menunjukkan pelemahan sebesar Rp 20.000 dari posisi hari kemarin.
Sementara itu, harga pembelian kembali atau buyback oleh Antam dipatok pada tingkat Rp 2.487.000 per gram. Angka ini berkurang Rp 40.000 jika dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Penurunan harga emas dunia ikut menyeret harga emas Antam ke zona merah. Kemarin, harga emas dunia di pasar spot ditutup pada level US$ 4.234,2 per troy ons.
Nilai tersebut ambruk 1,92% dibandingkan hari sebelumnya. Angka ini juga menjadi yang terendah sejak 10 Desember 2025 atau dalam kurun waktu sekitar enam bulan terakhir.
Dinamika geopolitik di wilayah Timur Tengah masih menjadi faktor pemberat bagi pergerakan harga emas dunia. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan bahwa Washington harus merespons situasi terbaru.
Langkah ini diambil setelah Donald Trump menuding pihak Iran telah menembak jatuh helikopter militer milik Negeri Adikuasa tersebut di wilayah Oman.
"Saya baru mendapat informasi dari mililiter kita yang hebat bahwa Iran menembak jatuh salah satu helikopter Apache kami yang canggih kala berpatroli di Selat Hormuz. Ada dua pilot, keduanya selamat tanpa luka maupun cedera. Namun AS harus, dan perlu, merespons serangan tersebut," cuit Trump di media sosial.
Dampak Konflik Global Terhadap Suku Bunga
Konflik di Timur Tengah yang belum mereda memicu kekhawatiran pasar terkait potensi tetap tingginya harga energi. Situasi ini kemudian membuat dunia dibayangi oleh ancaman inflasi.
Dampaknya, bank sentral di berbagai negara akan menghadapi kesulitan untuk melonggarkan kebijakan moneter mereka melalui penurunan suku bunga acuan. Beberapa negara bahkan sudah mengambil langkah untuk menaikkan suku bunga acuan, termasuk Bank Indonesia (BI).
Kondisi iklim suku bunga tinggi ini menjadi sentimen negatif bagi komoditas emas. Sebab, emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil atau non-yielding asset, sehingga memegangnya menjadi kurang menguntungkan.