Umat Islam Amalkan Puasa Daud untuk Kendalikan Diri

Share

Umat Islam mengamalkan ibadah sunah puasa Daud secara selang-seling sepanjang tahun untuk melatih regulasi jiwa dan meningkatkan kedisiplinan spiritual di tengah godaan dunia modern.

Metode pelaksanaan ibadah yang dicontohkan oleh Nabi Daud AS ini dilakukan dengan format satu hari menunaikan puasa dan satu hari berikutnya berbuka. Pelaksanaan ibadah sunah ini tidak memiliki batasan waktu mengenai kapan harus diakhiri sehingga dapat dirutinkan seumur hidup selama kondisi fisik pemeluknya mampu.

Asal-usul anjuran resmi ibadah ini bermula dari teguran kepada sahabat Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash yang berpuasa tanpa jeda setiap hari dan menggunakan sepanjang malam hanya untuk shalat.

"Wahai Abdullah, apakah benar berita bahwa kamu puasa seharian penuh lalu kamu shalat malam sepanjang malam?" tanya Nabi Muhammad SAW dalam hadis yang dilansir dari mediakompeten.co.id.

Sahabat Abdullah kemudian membenarkan pertanyaan tersebut kepada Rasulullah SAW.

"Janganlah kamu lakukan itu, tetapi berpuasalah dan berbukalah, shalat malamlah dan tidurlah, karena untuk jasadmu ada hak atasmu, matamu punya hak atasmu, istrimu punya hak atasmu, dan tamumu punya hak atasmu. Dan cukuplah bagimu bila kamu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan karena bagimu setiap kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa dan itu berarti kamu sudah melaksanakan puasa sepanjang tahun seluruhnya," tegur Nabi Muhammad SAW.

Karena Abdullah merasa dirinya masih kuat dan terus meminta tambahan amalan yang lebih berat, Rasulullah SAW akhirnya memberikan ketentuan batas tertinggi untuk puasa sunah.

"Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Ini adalah Puasa Daud, dan ini puasa yang paling baik. Tidak ada yang lebih utama darinya." sabda Nabi Muhammad SAW.

Keutamaan mengenai tingginya nilai ibadah transisi ini juga ditegaskan dalam riwayat lain yang memuat pujian langsung terhadap kebiasaan Nabi Daud AS.

"Puasa yang paling disukai di sisi Allah adalah puasa Daud, dan shalat yang paling disukai Allah adalah shalat Nabi Daud. Beliau biasa tidur di pertengahan malam dan bangun pada sepertiga malam terakhir dan beliau tidur lagi pada seperenam malam terakhir. Sedangkan beliau biasa berpuasa sehari dan berbuka sehari berikutnya." sabda Nabi Muhammad SAW.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang dikutip detik.com, Rasulullah SAW kembali menegaskan kedudukan amalan selang-seling tersebut di mata Allah SWT.

"Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud. Ia berpuasa sehari dan berbuka sehari." bersabda Rasulullah SAW.

Berdasarkan catatan liputan6.com, terdapat pula penegasan mengenai besarnya akumulasi pahala yang bisa diraih setara dengan separuh tahun dari pola konsisten ini.

"Tidak ada puasa yang lebih afdhol dari puasa Daud. Puasa Daud berarti sudah berpuasa separuh tahun karena sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa." bunyi hadis lain yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim.

Syekh 'Abdurra'uf al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir memaparkan alasan psikologis mengapa ibadah ini memegang derajat tertinggi di antara rumpun puasa sunah lainnya.

"Karena puasa Dawud itu memberatkan jiwa dengan mendapati apa yang disenangi jiwa sehari, lalu sehari kemudian meninggalkannya." papar Syekh 'Abdurra'uf al-Munawi.

Tata cara puasa Daud dimulai sejak terbit fajar hingga waktu Magrib tiba dengan kewajiban menahan diri dari segala hal yang membatalkan. Niat puasa dapat dilafalkan pada malam hari, namun fleksibilitas puasa sunah membolehkan pembacaan niat dilakukan pada pagi hari sebelum waktu Zuhur selama belum makan, minum, atau melakukan pembatal puasa.

Meskipun dapat dijalankan hampir sepanjang tahun, umat Muslim wajib memutus siklus selang-seling ini apabila fasenya bertepatan dengan hari yang diharamkan. Hari-hari yang dilarang tersebut meliputi Hari Raya Idul Fitri (1 Syawal), Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah), Hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah), Yaum Asy-Syak menjelang Ramadan, serta separuh terakhir dari bulan Sya'ban.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author