Jepang Gencarkan Perawatan Prakonsepsi Guna Atasi Penurunan Angka Kelahiran

Share

Penurunan angka kelahiran kini tengah melanda sejumlah negara maju, termasuk Jepang. Dilansir dari HaiBunda, jumlah bayi yang lahir di Jepang pada tahun 2025 merosot ke rekor terendah yaitu sebanyak 671.236 jiwa, atau turun 2,2 persen dari tahun 2024.

Kondisi ini diperparah oleh penurunan angka kesuburan total menjadi 1,14 dari yang sebelumnya 1,15. Angka ini menyusut tajam jika dibandingkan dengan situasi 40 tahun lalu saat angka kesuburan nasional Jepang masih berada di angka 1,76.

Menyikapi tren penurunan tersebut, pemerintah Jepang mengambil langkah strategis dengan menggencarkan program perawatan prakonsepsi atau edukasi sebelum kehamilan. Langkah ini bertujuan mendorong masyarakat luas agar memperoleh pengetahuan yang memadai terkait kehamilan dan persalinan.

Perawatan prakonsepsi sendiri awalnya diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun 2006. Program ini berupa rangkaian intervensi untuk mengidentifikasi sekaligus memodifikasi risiko persalinan agar berjalan aman sejak sebelum kehamilan terjadi.

Metode ini dinilai komprehensif untuk semua kalangan tanpa memandang usia maupun jenis kelamin. Melalui perawatan prakonsepsi, masyarakat terbantu untuk memahami kesejahteraan, mengelola pola hidup, serta merencanakan masa depan mereka.

Kebijakan perawatan sebelum kehamilan sebenarnya telah diadopsi pemerintah Jepang sejak tahun 2018. Pada bulan Mei tahun lalu, panel dari Children and Families Agency menyusun rencana lima tahun dengan target promosi menyasar 80 persen generasi muda.

Lembaga tersebut akan bersinergi dengan pemerintah daerah, perusahaan, dan institusi pendidikan demi menyebarluaskan gagasan ini. Mereka juga berkomitmen untuk meningkatkan fasilitas layanan konsultasi bagi masyarakat.

Program prakonsepsi ini akan mengedukasi warga mengenai pengaruh kebiasaan gaya hidup terhadap generasi masa depan. Selain itu, masyarakat juga diberikan pemahaman tentang bagaimana faktor usia dapat memengaruhi tingkat kesuburan seseorang.

Para wakil menteri dari kementerian terkait kesehatan sebelumnya telah mengadakan pertemuan untuk membahas langkah preventif ini. Mereka mengusulkan agar edukasi perawatan prakonsepsi dapat diintegrasikan langsung di lingkungan sekolah dan tempat kerja.

Kepala pusat perawatan prakonsepsi di National Center for Child Health and Development, Asako Mito, mengungkapkan bahwa kasus kehamilan dan persalinan berisiko tinggi masih terus ditemukan. Fenomena ini dipicu oleh faktor usia lanjut, serta masalah berat badan kurang atau obesitas yang kian meningkat di Jepang.

Menurut Asako Mito, banyak warga setempat yang masih minim literasi kesehatan serta kurang memahami informasi mengenai kesehatan reproduksi dan seks.

"Penting untuk melengkapinya dengan pendidikan seks komprehensif berstandar internasional," kata Mito.

"Menjalani hidup sehat baik secara fisik maupun mental adalah inti dari perawatan prakonsepsi, jadi gagasan ini penting bagi semua orang, bukan hanya generasi muda atau orang yang ingin memiliki anak," sambungnya.

Asako Mito menambahkan bahwa penyebaran informasi yang valid dan ketepatan penanganan medis bagi kelompok berisiko akan berdampak positif pada kesejahteraan bayi baru lahir. Upaya ini diharapkan dapat menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi penurunan angka kelahiran di Jepang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author