Australia Hentikan Sementara Pendaftaran Kampus Swasta Internasional Baru

Share

Pemerintah Australia memutuskan untuk membekukan sementara proses registrasi lembaga pendidikan dan kampus swasta baru yang menyasar mahasiswa asing. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi pengetatan sistem pendidikan dan pencegahan manipulasi visa pelajar.

Kebijakan penangguhan tersebut, seperti dilansir dari Detikcom, bakal berlangsung selama satu tahun, terhitung sejak 19 Mei 2026 sampai dengan 19 Mei 2027. Selama masa pembatasan ini, lembaga pendidikan vokasi (VET) serta kursus bahasa Inggris (ELICOS) swasta yang baru tidak diizinkan mendaftar ke Commonwealth Register of Institutions and Courses for Overseas Students (CRICOS).

Kendati demikian, aturan pengetatan ini tidak menyasar institusi pendidikan milik publik. Sekolah negeri, Technical and Further Education (TAFE), serta universitas negeri di Australia dipastikan tetap beroperasi normal tanpa terdampak kebijakan tersebut.

Otoritas berwenang menegaskan bahwa penghentian pendaftaran hanya ditujukan bagi operasional kampus swasta baru maupun pembukaan program studi anyar untuk skala internasional. Penundaan ini bertujuan memberikan ruang bagi lembaga regulator untuk menuntaskan evaluasi berkas yang masuk sekaligus memperketat pengawasan instansi.

"Penangguhan sementara ini memungkinkan regulator (ASQA) untuk fokus pada permohonan yang sudah ada untuk penyedia dan program CRICOS baru, serta terus melakukan pemeriksaan integritas secara mendalam," demikian keterangan Pemerintah Australia pada laman resminya, dikutip Selasa (9/6/2026).

Bagi institusi swasta yang statusnya sudah terdaftar secara resmi, mereka tetap diberikan izin untuk memperbarui program belajar atau menambah jaringan lokasi. Syaratnya, pengembangan tersebut wajib berkaitan dengan pemenuhan kualifikasi lama yang digantikan.

Perlindungan Reputasi dan Pengawasan Visa

Penetapan regulasi ketat ini berkaitan erat dengan komitmen negara dalam menjaga mutu edukasi global sekaligus memberantas praktik kecurangan izin tinggal lewat visa pelajar. Asisten Menteri Pendidikan Internasional Australia, Julian Hill, menyatakan bahwa negaranya tetap terbuka bagi pelajar asing yang berniat serius menuntut ilmu.

"Australia tetap terbuka bagi mahasiswa yang benar-benar ingin belajar, tetapi kami perlu melindungi reputasi negara ini dalam menyediakan pendidikan berkualitas tinggi," ujarnya, dikutip dari ABC News.

Julian Hill juga mengakui bahwa pembekuan izin operasional baru ini bukan merupakan keputusan yang mudah bagi jajaran pemerintahan.

"Menangguhkan pendaftaran baru untuk mengajar mahasiswa internasional di sektor pendidikan vokasi dan kursus bahasa Inggris bukanlah keputusan yang blanket diambil dengan ringan," katanya.

Ia menguraikan bahwa pertumbuhan pesat institusi baru di tengah tren penurunan jumlah pelajar asing memicu tanda tanya besar bagi pemerintah.

"Sejujurnya, hal itu menimbulkan kecurigaan," lanjut Hill.

Sektor Universitas Negeri Tetap Aman

Kebijakan pembatasan ini dipastikan tidak mengganggu aktivitas sekolah umum pemerintah, TAFE, maupun universitas negeri berskala besar yang telah mengantongi izin CRICOS. Otoritas setempat menyatakan langkah penertiban dilakukan demi menyaring penyedia jasa pendidikan yang nakal sekaligus meningkatkan kenyamanan belajar mahasiswa asing.

Di lain sisi, dinamika mengenai tata kelola mahasiswa asing ini masih memicu perdebatan hangat terkait isu arus migrasi di Australia. Chief Executive Universities Australia, Luke Sheehy, memperingatkan bahwa penerapan aturan yang terlampau ketat berisiko menekan sektor ekonomi dan industri pendidikan domestik.

"Jika Anda mengambil pendekatan yang terlalu keras terhadap sektor ini, Anda tidak akan menyelesaikan krisis perumahan," katanya.

Luke Sheehy turut memaparkan data bahwa mayoritas pelajar asing akan langsung angkat kaki dari Australia begitu masa studi mereka selesai.

"Sekitar 80 persen mahasiswa di universitas-universitas besar kembali meninggalkan Australia setelah menyelesaikan pendidikan mereka," tuturnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author