Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Tarik Utang Baru Rp386 Triliun

Share

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan strategi penarikan utang baru di awal tahun sebesar Rp386 triliun hingga Mei 2026 yang setara dengan 46,4 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Kebijakan pemupukan persediaan di awal tahun ini dikonfirmasi di Kompleks Parlemen pada Selasa (9/6/2026).

Langkah penarikan utang baru tersebut direalisasikan untuk membiayai kebutuhan APBN 2026 yang menargetkan total penarikan utang sebesar Rp832,2 triliun sepanjang tahun berjalan, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.

"Sebagian depannya front loading-kan. Ke belakang seperti biasa, sesuai dengan jadwalnya," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Pemerintah juga mencatat realisasi pembiayaan non-utang yang mencapai Rp6,5 triliun. Angka tersebut setara dengan 4,4 persen dari keseluruhan target pembiayaan non-utang tahun ini yang dipatok sebesar Rp143,1 triliun.

"Kemudian, pembiayaan non utang Rp6,5 triliun atau 4,4% dari target yang mencapai Rp143,1 triliun," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Secara kumulatif, pembiayaan anggaran hingga Mei 2026 menyentuh angka Rp379,4 triliun atau mencapai porsi 55,1 persen terhadap total target APBN yang sebesar Rp689,1 triliun. Jumlah pembiayaan ini memperlihatkan pertumbuhan sebesar 16,2 persen jika dibandingkan dengan realisasi pembiayaan periode yang sama pada tahun lalu yang berada di angka Rp326,5 triliun.

"Pembiayaan APBN dikelola secara prudent (hati-hati) dan terukur serta memperhatikan likuiditas pemerintah, kondisi kas yang optimal, serta dinamika pasar keuangan," tutur Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.

Kementerian Keuangan turut memantau pergerakan imbal hasil di pasar surat utang negara yang tetap berada dalam posisi stabil di tengah gejolak pasar keuangan global. Kondisi ini ditunjukkan oleh yield Surat Berharga Negara tenor 10 tahun yang mampu bertahan di level 6,68 persen, sementara selisih imbal hasil terhadap obligasi pemerintah Amerika Serikat terpantau relatif rendah.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author