Mengenali Gejala Serangan Jantung pada Perempuan yang Sering Terlambat Terdeteksi

Share

Serangan jantung hingga kini masih menempati posisi sebagai salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Dikutip dari Bloombergtechnoz, indikasi klinis gangguan ini ternyata muncul dengan karakteristik yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Perbedaan tanda-tanda tersebut memicu tingginya kasus keterlambatan deteksi pada pasien perempuan. Banyak di antaranya menganggap gejala awal yang muncul hanya sebagai keluhan kesehatan biasa yang tidak berbahaya.

Ketidakpahaman ini membuat banyak perempuan menunda penanganan medis. Akibatnya, sebagian besar pasien baru dibawa ke rumah sakit setelah kondisi tubuhnya memburuk dan membutuhkan perawatan intensif.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Ika K Dhanudibroto Sp.JP, SubSp.KI (K), FIHA, menegaskan pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap sinyal dari tubuh.

Menurutnya, pasien perempuan memiliki kecenderungan mengalami tanda-tanda yang tidak identik dengan gambaran klasik penyakit ini. Hal tersebut memicu pengabaian keluhan karena dianggap sebagai gangguan kesehatan ringan.

“Perempuan kerap mengalami gejala yang terasa tidak berhubungan dengan serangan jantung, sehingga perempuan cenderung tidak menyadarinya atau bahkan menunda untuk memeriksakannya,” kata dr. Ika.

Pada masyarakat luas, serangan jantung biasanya diidentifikasi melalui nyeri dada khas yang terasa seperti ditekan beban berat. Keluhan utama ini umumnya datang bersamaan dengan sesak napas serta rasa tidak nyaman yang menjalar.

Area penyebaran rasa sakit tersebut meliputi leher, rahang, bahu, hingga punggung dan perut bagian atas. Rasa tidak nyaman juga kerap muncul pada salah satu atau kedua lengan pasien.

Meski demikian, dr. Ika menjelaskan bahwa nyeri dada tidak selalu menjadi tanda awal dalam semua kasus. Kondisi medis ini dapat terjadi tanpa memicu gejala klasik yang selama ini dipahami masyarakat.

Faktor ketidakpastian tersebut yang menuntut pentingnya deteksi dini. Langkah ini krusial bagi perempuan karena tanda yang muncul cenderung lebih samar daripada yang dialami laki-laki.

Karakteristik gejala pada perempuan sering kali tidak langsung diasosiasikan dengan penyakit jantung. Sifatnya yang tidak spesifik membuat tanda-tanda tersebut kerap dikira sebagai masalah pencernaan atau kelelahan biasa.

“Pada perempuan, gejalanya bisa lebih tidak khas, misalnya mual dan muntah, keringat dingin, pusing atau kehilangan keseimbangan, kelelahan yang tidak biasa, hingga rasa terbakar di dada yang kerap disalahartikan sebagai gangguan pencernaan,” ungkap dr. Ika.

Munculnya rasa mual dan muntah sering memicu salah diagnosis mandiri sebagai gangguan lambung. Di sisi lain, rasa lelah yang ekstrem juga kerap dianggap sebagai dampak dari aktivitas harian yang padat.

Padahal, seluruh keluhan tersebut dapat menjadi indikasi awal adanya hambatan aliran darah menuju jantung. Oleh sebab itu, pemahaman mendalam mengenai tanda serangan jantung pada perempuan menjadi sangat vital.

Masyarakat juga diimbau untuk mengenali berbagai faktor risiko yang dapat memicu penyumbatan pembuluh darah. Faktor ini mencakup aspek gaya hidup hingga kondisi biologis spesifik pada perempuan.

Kondisi obesitas, kebiasaan merokok, serta tingginya kadar kolesterol menjadi pemicu utama yang sudah lama diketahui. Namun, perempuan memiliki kompleksitas risiko tambahan yang tidak dimiliki laki-laki.

“Meski laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang sama untuk terkena serangan jantung, perempuan memiliki risiko ekstra. Misalnya, menopause yang menyebabkan penurunan hormon estrogen sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung, serta komplikasi kehamilan seperti tekanan darah tinggi dan diabetes,” jelasnya.

Fase menopause yang menurunkan hormon estrogen akan mengurangi proteksi alami pada sistem kardiovaskular. Dampaknya, kerentanan perempuan terhadap penyakit jantung akan terus meningkat seiring bertambahnya usia.

Selain itu, gangguan masa kehamilan seperti hipertensi serta diabetes gestasional ikut andil menaikkan risiko di masa depan. Perempuan pun dianjurkan tidak mengabaikan keluhan sekecil apa pun yang muncul pada tubuh.

Pemeriksaan sejak dini menjadi modal utama untuk mendeteksi penyebab gangguan secara akurat. Kecepatan penanganan medis sangat memengaruhi tingkat keberhasilan penyembuhan dan pencegahan komplikasi fatal.

Sebagai bentuk langkah preventif, Mayapada Hospital Jakarta Selatan menghadirkan layanan Chest Pain Unit untuk pemeriksaan menyeluruh. Fasilitas ini disiapkan khusus bagi pasien dengan keluhan nyeri dada dan indikasi jantung lainnya.

Jika ditemukan kondisi darurat, pasien akan langsung ditangani oleh Cardiac Emergency yang beroperasi selama 24 jam. Layanan darurat ini dikawal oleh tim dokter spesialis dan subspesialis jantung yang siap siaga.

Prosedur penanganan medis dijalankan berdasarkan standar internasional, termasuk tindakan Primary PCI atau pemasangan stent jantung darurat. Proses diagnosis yang cepat didukung penuh oleh fasilitas Cath Lab.

Rumah sakit ini juga menyiagakan dokter spesialis anestesi selama 24 jam untuk mendukung tindakan bedah maupun perawatan intensif. Integrasi layanan ini diharapkan mampu meminimalkan risiko fatal akibat keterlambatan penanganan.

Masyarakat kini juga dapat mengakses aplikasi MyCare untuk memanfaatkan beragam fitur digital pendukung. Layanan daring ini menyediakan informasi kesehatan, pemantauan kondisi tubuh, hingga akses cepat ke kontak darurat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author