Kemenkes Hitung Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Harga Obat

Share

Kementerian Kesehatan tengah menghitung dampak riil pelemahan nilai tukar rupiah terhadap harga obat di dalam negeri bersama para pelaku industri farmasi. Langkah ini diambil setelah pemerintah menerima keluhan terkait lonjakan harga bahan baku obat yang mayoritas didatangkan melalui impor, seperti dilansir dari Detik Health pada Senin (8/6/2026).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa penyesuaian harga obat tidak akan bergerak linier dengan persentase penurunan kurs rupiah. Hal tersebut dikarenakan struktur pembiayaan produk farmasi juga ditopang oleh komponen lokal yang menggunakan mata uang rupiah.

"Kami sudah menerima beberapa masukan dari beberapa perusahaan obat bahwa bahan bakunya mereka ada yang naik," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Penghitungan ulang yang melibatkan Direktorat Jenderal terkait ditujukan untuk memetakan seluruh variabel biaya produksi secara mendalam. Kemenkes berupaya mencari titik keseimbangan agar operasional industri farmasi tetap berjalan tanpa memberatkan daya beli masyarakat.

"Saya sudah minta Ibu Dirjen, kan komponen harga obat selain bahan baku ada juga komponen biaya distribusi, marketing. Coba tolong dihitung angkanya. Sekarang sedang didiskusikan dengan para industri," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Menurut simulasi pemerintah, andai mata uang dolar AS mengalami lonjakan hingga seperlima dari nilai sebelumnya, pergeseran harga produk obat jadi diproyeksikan tidak akan menyentuh angka persentase yang sama. Faktor biaya operasional domestik menjadi penahan utama dari fluktuasi tajam tersebut.

"Ada (kenaikan), tapi nggak sebesar misalnya kenaikan minyak naik 20 persen atau kurs naik 20 persen," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Pemerintah memisahkan komponen pengeluaran non-dolar yang mencakup rantai pasok lokal dan program edukasi publik. Pengeluaran logistik di dalam negeri sepenuhnya menggunakan mata uang rupiah sehingga tidak terpengaruh langsung oleh gejolak valuta asing.

"Kan obat nggak semuanya dolar. Biaya marketing nggak, biaya pendidikan nggak, biaya distribusi rupiah," kata Menkes Budi Gunadi Sadikin.

Sebelumnya, para pelaku usaha di sektor farmasi telah memberikan peringatan mengenai risiko pembengkakan biaya produksi akibat ketergantungan impor bahan baku yang tinggi. Tekanan terhadap stabilitas harga obat domestik diprediksi bakal menguat apabila koreksi nilai tukar rupiah ini terus berlangsung dalam jangka panjang.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author