Komdigi Pastikan Pelemahan Rupiah Tidak Ganggu Lelang Frekuensi Internet
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memastikan bahwa proses lelang frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz yang sedang berjalan tetap berlanjut tanpa hambatan meskipun nilai tukar rupiah sedang mengalami pelemahan terhadap dolar AS pada Senin (9/6/2026).
Langkah penataan ulang spektrum ini disiapkan pemerintah demi memacu kualitas serta kecepatan internet seluler di Indonesia yang dinilai masih terbatas. Pengadaan infrastruktur ini ditargetkan untuk mengoptimalkan perluasan jaringan 4G dan penggelaran 5G secara nasional.
Kondisi pasar finansial saat ini menunjukkan kurs mata uang AS telah menyentuh angka Rp 18.125 per dolar AS, namun Komdigi menegaskan fluktuasi tersebut sama sekali tidak memengaruhi jalannya seleksi, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.
"Tidak. Tidak ada," ujar Direktur Strategi dan Kebijakan Infrastruktur Digital, Kementerian Komdigi, Denny Setiawan di Jakarta, Senin (9/6/2026).
Kompetisi perebutan kedua pita frekuensi tersebut saat ini tengah diikuti oleh tiga operator seluler raksasa di Indonesia, yakni Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XL Smart.
Pada pelaksanaan lelang frekuensi 700 MHz, pihak kementerian membuka penggunaan blok di rentang 703-738 MHz (uplink) yang dipasangkan dengan 758-793 MHz (downlink) dengan total lebar pita mencapai 70 MHz. Spektrum rendah ini memiliki kelebihan daya jangkau sinyal yang lebih luas serta kemampuan penetrasi bangunan yang lebih kuat.
Sementara itu, frekuensi 2,6 GHz yang menyediakan total lebar pita 190 MHz dialokasikan sebagai kapasitas tambahan guna menampung kepadatan trafik data yang tinggi di area perkotaan, pusat bisnis, kampus, dan kawasan industri.
Pihak otoritas berwenang juga menegaskan bahwa seluruh alokasi spektrum radio yang tersedia tidak akan dibagi secara rata kepada para peserta seleksi demi menjaga iklim kompetisi industri telekomunikasi.
"Tidak dibagi rata, harus ada kompetisi," ungkap Denny.