Pemerintah Respons Tuntutan Mahasiswa Terkait Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menanggapi tuntutan dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia wilayah Jawa Tengah yang mendesak perbaikan kondisi ekonomi nasional di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, pada Senin (8/6/2026).
Langkah ini diambil Istana setelah puluhan mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bank Indonesia Jawa Tengah, Semarang, akibat nilai tukar rupiah yang melemah hingga menembus angka Rp18.030 per dolar AS.
Pemerintah menyatakan bahwa seluruh masukan dari elemen mahasiswa telah diterima dan saat ini koordinasi lintas sektoral terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi.
"Ya tentunya kami menerima aspirasi tersebut ya, sebagai sebuah masukan tentunya kepada pemerintah," ujar Prasetyo di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Mensesneg menambahkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir, seluruh jajaran pemerintahan sedang berupaya keras secara bersama-sama guna menyelesaikan gejolak perekonomian yang terjadi.
"Tapi sekali lagi, kita yakin bahwa langkah-langkah yang kita ambil, dengan koordinasi yang erat, dengan koordinasi yang intens, dengan kebijakan yang saling memperkuat satu sama lain, juga yang hari ini memberi kepastian juga kepada para pelaku usaha, kami yakin kita akan dapat mengatasi permasalahan ini," jelasnya.
Mengenai batas waktu 18 hari yang dipatok oleh gerakan mahasiswa, Prasetyo menyatakan bahwa pemulihan sektor ekonomi yang bersifat fundamental memerlukan proses dan tidak bisa diselesaikan secara instan.
"Ya, kan mohon maaf ya, tidak semua atau tidak segala sesuatu itu bisa dicapai dengan sebuah tenggat waktu yang sudah ditetapkan. Kan begitu. Tidak, tidak semuanya bisa seperti itu," tegas Prasetyo.
Kendati demikian, pihak Istana tetap memberikan apresiasi terhadap kepedulian yang ditunjukkan oleh para mahasiswa dalam mengawal isu perekonomian negara.
"Tapi yakinlah bahwa yang dimaksud juga oleh adik-adik ini kan adalah semangatnya itu. Semangatnya untuk kita semua bagaimana untuk memang bekerja keras terutama di sektor ekonomi," imbuhnya.
Gelombang protes dari aliansi mahasiswa ini sebelumnya direkam oleh Kompas TV saat massa menyuarakan aspirasi mereka di Jawa Tengah.
"Kalau kita melihat hari ini, untuk rupiah yang melemah sebanyak Rp18.000, kami hari ini berikan tenggat waktu selama 18 hari untuk memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia," kata Kailani dalam aksi yang digelar mahasiswa.
Ketua BEM UNS tersebut mengancam akan membawa massa yang lebih besar menuju Kementerian Keuangan jika tuntutan mereka diabaikan.
"Oleh karena itu, jika dalam waktu 18 hari tidak ada upaya perbaikan, maka jangan salahkan kami selaku mahasiswa untuk nanti melakukan penyegelan-penyegelan yang akan kami lakukan dalam tenggat waktu 18 hari di Kementerian Keuangan," ujarnya.
Kondisi ekonomi ini juga memicu keprihatinan mendalam dari perwakilan mahasiswa lainnya yang ikut turun ke jalan, seperti dilaporkan oleh Republika.co.id.
"Terhitung per hari ini, 5 Juni 2026, kurs nilai tukar rupiah telah melemah di angka Rp18.030 kurang lebih. Ini merupakan kurs nilai tukar rupiah terhadap dolar paling lemah sepanjang sejarah Indonesia," kata Kevin Kurnia Priambodo, dalam operasinya.
Presiden BEM Politeknik Negeri Semarang tersebut juga menyoroti dampak defisit APBN terhadap ketahanan ekonomi nasional.
"APBN kita terhitung sampai hari ini masih menunjukkan angka defisit. Untuk negara Indonesia, sebagai negara berkembang, negara yang masih mengandalkan produk-produk impor, keadaan rupiah yang melemah akan semakin mencederai dan melemahkan ekonomi negara kita," ucap Kevin.
Selain menggelar aksi langsung, aliansi BEM SI Jateng juga menyebarluaskan tuntutan resmi mereka melalui media sosial di akun Instagram @bem_si dan @storyrakyat_ pada Minggu (7/6/2026).