Rupiah Melemah ke Rp18.203 per Dolar AS Terimbas Sentimen Global

Share

Nilai kontrak rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan tren pelemahan di pasar luar negeri. Kondisi ini terjadi seiring dengan menguatnya indeks dolar AS serta harga minyak mentah yang terus melambung tinggi.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, rupiah dibanderol pada level Rp18.203/US$ di perdagangan pasar Non-Deliverable Forwards (NDF). Mata uang Garuda tercatat melemah sebesar 0,07% pada pukul 07:30 WIB.

Depresiasi ini dipicu oleh pergerakan dolar AS yang menguat terhadap enam mata uang utama ke posisi 100,4. Sementara itu, harga minyak mentah masih bertahan di level US$94,06 per barel setelah sempat terkoreksi 0,2%.

Prospek kebijakan bank sentral AS yang semakin hawkish juga berpotensi terus menekan mata uang di kawasan Asia. Meski demikian, koreksi harga minyak mentah pada sesi perdagangan pagi sedikit memberikan ruang rebound bagi sebagian mata uang regional.

Pada pasar yang telah dibuka, won Korea Selatan terpantau menguat 0,39%, diikuti oleh ringgit Malaysia sebesar 0,08%. Baht Thailand juga menguat 0,06%, yuan offshore naik 0,03%, dan dolar Hong Kong terangkat 0,01%. Sebaliknya, yen Jepang menyusut 0,01%.

Tekanan terhadap rupiah dari dalam negeri masih bersumber pada kinerja perekonomian domestik yang belum menggembirakan. Tekanan global menjadi jauh lebih kuat lantaran para investor meragukan konsistensi kebijakan di dalam negeri.

"Faktor global menjelaskan mengapa hampir semua mata uang negara berkembang tertekan, tetapi faktor domestik menjelaskan mengapa rupiah dapat melemah lebih dalam dan IHSG terkoreksi lebih tajam. Dengan kata lain, tekanan luar negeri menyalakan api, tetapi ketidakpastian kebijakan domestik memperbesar rambatannya," kata Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede.

Tingginya premi risiko yang dibebankan pasar terhadap aset domestik tercermin dari kenaikan imbal hasil di pasar Surat Berharga Negara (SBN). Tren serupa juga terjadi pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Imbal hasil instrumen SRBI secara konsisten mengalami kenaikan di seluruh tenor perdagangan. Instrumen ini selama ini menjadi salah satu alat utama bank sentral untuk menarik dana asing sekaligus menopang nilai tukar.

Kenaikan imbal hasil SRBI tenor 3 bulan bergerak dari 6,47% menjadi 6,62%, sedangkan tenor 6 bulan naik dari 6,69% menjadi 6,87%. Pada saat yang sama, imbal hasil untuk tenor 12 bulan melonjak dari 6,94% menjadi 7,24%.

Kenaikan imbal hasil tersebut tetap mendapatkan dukungan dari minat investor yang cukup tinggi. Hal ini terlihat dari adanya lonjakan volume transaksi yang signifikan di pasar.

Pada SRBI tenor 12 bulan, volume perdagangan melesat tajam dari Rp405 miliar menjadi hampir Rp7 triliun dalam sehari. Kondisi ini menunjukkan likuiditas instrumen yang masih menarik bagi pelaku pasar.

Kementerian Keuangan melaporkan pemerintah telah menarik utang baru sebesar Rp386 triliun hingga Mei 2026. Jumlah penarikan utang tersebut setara dengan 46% dari total target pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun ini.

Posisi cadangan devisa Indonesia juga dilaporkan turun sebesar US$1,3 miliar. Penurunan ini menggenapi penyusutan sepanjang tahun ini menjadi US$11,57 bias, sehingga sisa posisi cadangan devisa saat ini adalah US$144,9 miliar.

Kondisi cadangan devisa saat ini dinilai masih cukup kuat sebagai bantalan eksternal. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 5,7 bulan impor, berada di atas standar kecukupan internasional untuk memenuhi kewajiban pembayaran luar negeri jangka pendek.

Secara teknikal, pergerakan nilai tukar rupiah hari ini masih menghadapi risiko pelemahan lanjutan. Target depresiasi terdekat diproyeksikan menuju level Rp18.200/US$ yang bertindak sebagai support pertama.

Target pelemahan kedua bagi pergerakan mata uang rupiah berpotensi tertahan pada level Rp18.250/US$. Jika nilai rupiah terus bertengger di atas level terlemah sepanjang masa, risiko berlanjut hingga Rp18.400/US$ sampai Rp18.500/US$.

Garis tren sebelumnya pada kerangka waktu harian kini menjadi resistance psikologis potensial pada level Rp18.100/US$. Apabila terjadi penguatan lanjutan, target pergerakan rupiah diperkirakan menuju level Rp18.000/US$.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: dolar as ekonomi makro rupiah
Editors Team
gilang-permana-putra
Author