Rupiah Anjlok ke Rp17.710 per Dolar AS pada Selasa Pagi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah dengan menembus level Rp17.710 pada perdagangan pasar spot Selasa pagi, 19 Mei 2026.
Berdasarkan data Bloomberg yang dikutip Bloomberg Technoz, mata uang Garuda melemah sekitar 0,28 persen ke posisi Rp17.706 per dolar AS pada pukul 09.28 WIB, sebelum merosot lebih dalam ke angka Rp17.710 per dolar AS pada pukul 09.42 WIB.
Data Refinitiv pukul 09.25 WIB yang dilansir CNBC Indonesia turut mencatat depresiasi rupiah sebesar 0,37 persen ke level Rp17.705 per dolar AS, mengonfirmasi runtuhnya batas psikologis baru di level Rp17.700.
Kemerosotan ini memperpanjang tren negatif setelah sehari sebelumnya rupiah melemah lebih dari 1 persen, dipicu oleh ketidakpastian geopolitik Timur Tengah, tingginya yield US Treasury, dan kekhawatiran pasar terhadap kredibilitas kebijakan domestik.
Mayoritas mata uang Asia juga ikut melemah terhadap dolar AS; won Korea Selatan terpangkas 0,87 persen, dolar Taiwan turun 0,24 persen, baht Thailand terkoreksi 0,15 persen, dong Vietnam susut 0,11 persen, dolar Singapura turun 0,09 persen, yen Jepang melemah 0,08 persen, dan peso Filipina turun tipis 0,02 persen.
Sebaliknya, ringgit Malaysia berhasil menguat 0,05 persen dan yuan China naik tipis 0,04 persen di saat indeks dolar AS sebenarnya mengalami penurunan sebesar 0,09 persen ke posisi 99,101.
Sebelumnya, laporan Reuters yang dimuat Kompas.com mencatat rupiah telah melewati ambang batas Rp17.500 per dolar AS untuk pertama kalinya pada awal pekan lalu hingga menyentuh Rp17.535 pada Kamis, 14 Mei 2026.
Kondisi pasar valuta asing regional saat ini memicu spekulasi kuat bahwa Bank Indonesia harus segera menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate guna menahan laju keluarnya arus modal asing dari pasar domestik.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menjelaskan bahwa situasi saat ini sudah menyentuh persoalan fundamental terkait kredibilitas jangkar kebijakan makroekonomi nasional.
"Dalam situasi seperti ini, bank sentral tidak hanya sedang mengelola inflasi. Bank sentral sedang mempertahankan policy anchor itu sendiri. Ketika pasar mulai mempertanyakan di mana terminal level Rupiah, di mana inflation anchor, dan bagaimana koordinasi fiskal-moneter akan berjalan, maka biaya stabilisasi ke depan bisa menjadi jauh lebih mahal," ujar Fakhrul.
Fakhrul menambahkan bahwa absennya sinyal penyesuaian yang tegas pada sektor energi dan fiskal membuat beban stabilisasi berpindah sepenuhnya ke nilai tukar, sehingga memicu potensi fenomena Dornbusch overshooting.
"Kenaikan suku bunga kali ini bukan karena ekonomi runtuh atau inflasi sudah tinggi. Justru ini diperlukan agar kita tidak membayar harga yang lebih mahal di kemudian hari akibat kehilangan jangkar ekspektasi," kata Fakhrul.
Menurut analisisnya, Bank Indonesia perlu menerapkan langkah pengetatan klasik sebesar 50 basis poin, di mana koordinasi bersama Otoritas Jasa Keuangan tetap bisa menjaga penyaluran kredit sektor prioritas melalui insentif likuiditas.
Proyeksi serupa disampaikan oleh Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi yang memperkirakan mata uang domestik masih berpeluang bergerak volatil di rentang Rp17.650 hingga Rp17.750 per dolar AS.
"Kami memperkirakan kenaikan BI Rate naik 25 bps menjadi 5% besok, akibat kuatnya tekanan depresiasi terhadap rupiah," sebut Lionel.
Di belahan dunia lain, tekanan inflasi global yang dipicu konflik Iran dan penutupan jalur energi Selat Hormuz telah mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang utama selama lima hari berturut-turut hingga Jumat, 15 Mei 2026.
Mata uang poundsterling melemah 0,57 persen menjadi 1,3323 dolar AS, euro turun 0,39 persen ke 1,1623 dolar AS, sedangkan rupee India menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia setelah ambles lebih dari 6 persen sepanjang tahun ini.
Pejabat bank sentral AS menyatakan fokus mereka tetap pada pengendalian inflasi, meskipun Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menilai kebijakan moneter AS saat ini masih belum perlu diubah.
Survei posisi mata uang Asia terhadap dolar AS menggunakan skala minus 3 hingga plus 3 menunjukkan skor USD/IDR berada di angka 1,73, diikuti USD/INR sebesar 1,63, USD/PHP 1,30, USD/THB 0,65, USD/KRW 0,33, dan USD/TWD 0,15.
Sementara itu, tiga mata uang mencatat skor negatif yang menandakan posisi menguat terhadap dolar AS, yaitu USD/MYR dengan skor -0,80, USD/SGD sebesar -0,83, dan USD/CNY di angka -1,35.
| Pasangan Mata Uang (USD/Pasangan) | Skor Posisi Pasar |
|---|---|
| USD/IDR (Rupiah Indonesia) | 1,73 |
| USD/INR (Rupee India) | 1,63 |
| USD/PHP (Peso Filipina) | 1,30 |
| USD/THB (Baht Thailand) | 0,65 |
| USD/KRW (Won Korea Selatan) | 0,33 |
| USD/TWD (Dolar Taiwan) | 0,15 |
| USD/MYR (Ringgit Malaysia) | -0,80 |
| USD/SGD (Dolar Singapura) | -0,83 |
| USD/CNY (Yuan China) | -1,35 |
Para pelaku pasar kini sedang mengantisipasi rilis risalah rapat Federal Open Market Committee serta data awal Purchasing Managers' Index Amerika Serikat untuk membaca arah kebijakan ekonomi global selanjutnya.