Iran dan Israel Sepakat Minimalkan Serangan demi Jaga Perundingan Damai
Iran dan Israel menyepakati pengurangan intensitas serangan bilateral setelah peningkatan eskalasi militer yang mengancam proses perundingan damai di Timur Tengah pada Senin (9/6/2026). Kesepakatan de-eskalasi ini tercapai pasca adanya dorongan langsung dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Ketegangan antara kedua negara sebelumnya sempat memuncak akibat aksi saling serang pada akhir pekan lalu, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Dampak dari konflik tersebut memicu kenaikan harga minyak Brent sekitar 1 persen hingga mendekati 94 dolar AS per barel pada perdagangan Senin.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil langkah aktif dengan menghubungi para pemimpin regional demi meredam gejolak. Melalui media sosial, Trump memberikan penegasan mengenai status pembicaraan kedamaian yang sedang diupayakan oleh pemerintahannya.
"sedang berlangsung, asalkan tidak terhalang oleh ketidaktahuan atau kebodohan." kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Melalui laporan terpisah, Trump juga memberikan penegasan tegas mengenai posisi tawar Washington terhadap otoritas pengambilan keputusan di Israel dalam memenangi kesepakatan regional tersebut.
"Saya yang menentukan segalanya," kata Trump, Presiden Amerika Serikat.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menanggapi situasi tersebut melalui sebuah pernyataan resmi yang disiarkan oleh stasiun televisi lokal. Netanyahu memaparkan posisi militer Israel saat ini di tengah upaya gencatan senjata.
"tindakan yang jauh lebih keras dan menghancurkan daripada sebelumnya akan segera terjadi," kata Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Sementara itu, pihak Teheran menyatakan posisi diplomasi mereka yang tetap bertahan di tengah ancaman konflik bersenjata regional melalui saluran komunikasi resmi pemerintah.
"tidak meninggalkan medan tempur maupun meja perundingan." kata Pezeshkian, Presiden Iran.
Kelompok milisi Houthi yang berbasis di Yaman turut memberikan pernyataan sikap resmi melalui saluran digital mereka terkait keterlibatan dalam konflik maritim regional ini.
"larangan total dan mutlak terhadap navigasi maritim bagi musuh Israel di Laut Merah," kata kelompok Houthi, Kelompok Milisi.
Hingga saat ini, stabilitas keamanan di jalur perdagangan Selat Hormuz masih berada dalam pemantauan ketat. Sebagian kecil kapal komersial mulai kembali berlayar dengan mematikan sistem pemancar digital untuk menghindari risiko keamanan.