IHSG Anjlok 4,52 Persen Akibat Sentimen Negosiasi AS dan Iran Mandek

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam sebesar 4,52 persen ke posisi 5.342,13 pada perdagangan Senin (8/6/2026) akibat pudarnya negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kejatuhan ini membawa indeks ke level terendah dalam lima tahun terakhir sejak November 2020, dilansir dari Bloomberg Technoz.

Pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia (BEI) memperlihatkan volatilitas tinggi di zona merah dengan rentang operasional antara 5.523,94 hingga 5.317,9. Data BEI merekam nilai transaksi menembus Rp21,73 triliun dari aktivitas jual-beli sebanyak 2,21 juta kali terhadap 32,52 miliar saham.

Kondisi pasar menunjukkan tekanan hebat dengan melemahnya 661 saham, sementara hanya 78 saham yang menguat dan 78 saham lainnya jalan di tempat. Seluruh sektor terkoreksi, di mana saham-saham industri, infrastruktur, serta transportasi memimpin kejatuhan masing-masing sebesar 6,38 persen, 6,28 persen, dan 5,57 persen.

Kemerosotan pasar modal ini juga melanda bursa saham di Asia secara serentak akibat kecemasan terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. KOSPI Korea Selatan mencatat penurunan terdalam mencapai 8,29 persen, diikuti pelemahan masif pada indeks NIKKEI 225 Jepang sebesar 3,85 persen dan TW Weighted Taiwan sebesar 3,48 persen.

Berdasarkan laporan Bloomberg News, kebuntuan diplomasi Washington dan Teheran terjadi tepat 100 hari setelah konflik bersenjata yang dimulai oleh AS dan Israel pecah. Selain itu, sentimen negatif diperparah oleh rilis data Nonfarm Payrolls AS yang solid sehingga memicu ekspektasi Federal Reserve (The Fed) di bawah Gubernur baru Kevin Warsh akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Pihak analis pasar modal mengonfirmasi bahwa tekanan eksternal dari konflik geopolitik global ini langsung berimbas negatif pada sentimen domestik. Konflik paralel antara Israel dan milisi Hizbullah di Lebanon turut mengunci jalannya proses gencatan senjata yang rapuh.

"Di tengah sentimen negatif internal akibat hilangnya kepercayaan investor, sentimen negatif juga berasal dari eksternal. Iran dan Israel saling melakukan serangan, sehingga mengancam gencatan senjata yang rapuh," jelas Phintraco dalam catatan terbarunya, Senin.

Ketegangan geopolitik tersebut mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia di atas 4 persen yang berisiko menaikkan inflasi serta memperlebar defisit APBN 2026. Dampaknya, nilai tukar rupiah ikut melemah 0,88 persen ke level Rp18.178 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari yang sama.

"IHSG ditutup di bawah level MA–200 monthly, sehingga potensi penurunan IHSG lebih lanjut masih berpeluang terbuka secara teknikal." jelas Phintraco Sekuritas.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author