Heru Gundul Ungkap Pengalaman Dua Dekade Menjadi Pembawa Acara Petualangan

Share

Presenter program petualangan alam liar, Heru Gundul, membagikan kisah suka dan duka selama hampir dua dekade berkarier sebagai pembawa acara di televisi. Berdasarkan laporan dari Detik Hot, sosok yang dikenal melalui program Jejak Si Gundul ini mengaku lebih banyak merasakan pengalaman menyenangkan dalam menjalani profesinya tersebut.

"Sukanya ya kita banyak ketemu orang, otomatis banyak saudara, dan ya orang pengin piknik susah, aku bisa dikatakan tiap hari piknik. Dukanya ya capek, ninggalin keluarga," kata Heru Gundul saat ditemui di Studio Trans7, Warung Buncit, Jakarta Selatan.

Pria yang identik dengan kepala plontos ini mengenang salah satu momen unik saat bertugas mengawal tim penyelam di Raja Ampat pada tahun 2006. Saat itu, ia diminta oleh produser untuk mendampingi kru penyelam dari program Jejak Petualang dan Petualang Bahari hanya dengan menggunakan perlengkapan snorkeling.

"Waktu itu mereka diving nyelam, dan aku diminta ngawal mereka hanya dengan snorkeling. Jadi itu sebenarnya hal yang lucu, mereka nyelam tapi aku cuma snorkeling," ujar Heru Gundul.

Ketika menjalankan tugas tersebut, situasi darurat terjadi akibat salah satu pembawa acara Petualang Liar, Ulung Putri, pingsan di dalam air setelah lehernya terkena tembakan karang air.

"Dia kena tembakan karang air di leher dan pingsan di dalam. Aku sempat bantu bawa ke atas dan berenang ke kapal. Jadi itu kemauan dan luar biasa sih. Satu hal yang nggak mungkin nih ngawal nyelam pakai snorkeling, tapi bermanfaat," kenang Heru Gundul.

Di luar aktivitasnya sebagai pemandu acara di layar kaca, Heru Gundul juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial di Yogyakarta. Ia tercatat sebagai relawan pemadam kebakaran, anggota SAR DIY, serta relawan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

"Jadi pada saat ada kejadian, aku pas lagi off ya berangkat," ungkap Heru Gundul.

Bagi Heru Gundul, menghadapi satwa liar di alam bebas maupun menjalankan tugas sebagai relawan kebencanaan tidak memiliki perbedaan yang mendasar. Ia menegaskan bahwa kesiapan mental dan keahlian yang mumpuni menjadi faktor penentu keselamatan di lapangan.

"Semuanya sama sih. Apa pun kegiatannya selama kita tetap tenang dan prepare, ya kita punya kemampuan, semua sama. Kecuali kalau kita nggak prepare, kita nggak punya kemampuan, nah itu yang membuat masalah," jelas Heru Gundul.

Selain itu, ia membeberkan alasan mengapa belakangan ini dirinya mulai jarang menggunakan ikat kepala yang selama ini menjadi ciri khasnya saat syuting. Penutup kepala tersebut awalnya berfungsi melindungi diri dari cuaca panas di lokasi pengambilan gambar.

"Ikat kepala itu sebenarnya cuma buat penutup supaya nggak pcah saja kepalanya nih. Kalau kita syuting panas-panas kan, gila tuh panasnya," kata Heru Gundul sambil tertawa.

Langkah tampil tanpa ikat kepala di luar jadwal syuting sengaja dilakukan demi membangun citra personal yang lebih luas di masyarakat.

"Kalau aku istilahnya di luar TV, biar orang tahu juga sih, tanpa ikat kepala pun orang tahu. Jadi membangun personal branding secara pastilah," ujar Heru Gundul.

Meski memiliki jadwal yang padat antara pekerjaan dan kegiatan kemanusiaan, ia tetap memprioritaskan waktu bersama keluarga. Heru Gundul kerap membawa anak-anaknya ke tempat syuting agar mereka dapat melihat langsung profesi orang tuanya sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap alam.

"Seringkali kalau aku pas syuting juga mereka aku ajak ke lokasi syuting. Jadi supaya mereka tahu sih kerjaan bapaknya kayak apa. Jadi anakku juga aku arahin untuk bisa berkegiatan di alam dan bisa berguna bagi masyarakat," pungkas Heru Gundul.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author