Prabowo Subianto Menyebut Indonesia Diuntungkan Perang Dagang AS-China
Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapatkan keuntungan dari perseteruan dagang antara Amerika Serikat dan China pada Senin (8/6/2026). Dampak positif tersebut terlihat dari mulai berpindahnya operasional sejumlah sektor industri ke wilayah Indonesia.
Ketergantungan pertumbuhan ekonomi domestik terhadap dinamika hubungan Washington dan Beijing dipengaruhi oleh kepemilikan kapasitas industri serta mineral strategis di kawasan Asia Tenggara. Kedua negara raksasa ekonomi tersebut dinilai sama-sama memerlukan komoditas penting yang ada di Indonesia dan sekitarnya, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.
"Baik China maupun AS membutuhkan mineral strategis dan kapasitas industri yang dimiliki Asia Tenggara. Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi kami berkorelasi positif dengan pertumbuhan ekonomi mereka. Ekonomi AS dan China yang dinamis merupakan kepentingan kami," ujar Prabowo, Presiden Republik Indonesia.
Kepala Negara juga menambahkan pandangannya mengenai stabilitas geopolitik global yang ideal bagi kemakmuran bersama. Menurutnya, keharmonisan hubungan antara kedua kekuatan besar dunia tersebut akan membawa dampak yang jauh lebih baik dibandingkan dengan jalur konfrontasi.
"Namun, saya percaya dunia akan lebih sejahtera apabila dua kekuatan besar tersebut dapat bekerja sama secara harmonis. Sebaliknya, jika mereka saling berkonfrontasi, dampaknya akan negatif," kata Prabowo, Presiden Republik Indonesia.
Kawasan Asia Tenggara kini bertransformasi menjadi area yang memperoleh keuntungan tidak terduga di tengah ketegangan perdagangan internasional. Berdasarkan data analisis dari Lowy Institute, laju pertumbuhan ekspor dari negara-negara di kawasan ini menuju Amerika Serikat bahkan telah melampaui performa China selaku kompetitor utamanya.
Lembaga riset tersebut memaparkan bahwa pengiriman komoditas dari 11 negara anggota ASEAN ke pasar Amerika Serikat melonjak hingga 23 persen pada September jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Lonjakan signifikan ekspor ini dipelopori oleh aktivitas perdagangan dari Thailand dan Vietnam, sementara porsi pasar milik China justru mengalami penurunan.
Daya saing komoditas dari negara-negara ASEAN terdorong oleh kebijakan tarif proteksi yang diterapkan oleh pemerintah Washington. Ketika tarif efektif komoditas asal China melonjak hingga menyentuh angka 31 persen, negara-negara di Asia Tenggara hanya dikenakan beban tarif sekitar 11 persen saja.