Kemlu Pantau WNI dan Peringatan Tsunami Gorontalo Utara Berakhir

Share

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memastikan belum ada warga negara Indonesia yang menjadi korban dalam gempa magnitudo 7,8 di Filipina selatan pada Senin, 8 Juni 2026. Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Gorontalo resmi mengakhiri peringatan dini tsunami di Kabupaten Gorontalo Utara sehingga warga yang sempat mengungsi kini telah kembali ke rumah.

Direktur Pelindungan WNI Kemlu Heni Hamidah menyampaikan bahwa koordinasi intensif terus berjalan untuk memantau situasi di lapangan pascabencana tersebut. Pemantauan ini dilakukan bersama dengan Konsul Jenderal RI di Davao serta perwakilan RI di Sabah, Malaysia, menyusul adanya imbauan dari Pemerintah Sabah.

"Sejauh ini, belum terdapat informasi adanya WNI/PMI terdampak dalam gempa tersebut," kata Heni Hamidah, Direktur Pelindungan WNI Kemlu.

Heni kemudian meminta agar seluruh masyarakat Indonesia yang berada di wilayah sekitar terus memperhatikan informasi dari otoritas setempat demi menjaga keselamatan diri masing-masing.

"Banyak bangunan yang terdampak, tetapi saya tak bisa menyebutkan sekarang karena kami sedang sibuk dengan operasi penyelamatan," kata Robert Dagon, Sersan Mayor Kepolisian Kota General Santos.

Titik gempa utama berada di area yang berjarak sekitar 13 kilometer dari arah barat daya General Santos City, Sarangani, wilayah Mindanao Selatan. Peristiwa ini merobohkan sejumlah gedung sekolah hingga pusat perbelanjaan serta memicu kepanikan massal di kawasan terdampak.

"Kami menemukan korban jiwa. Sebuah tembok runtuh menimpa mereka," kata Roland Catoburan, Mayor Polisi di Alabel, Kota General Santos.

Rangkaian gempa susulan masih terus tercatat oleh Survei Geologi Amerika Serikat dengan kekuatan paling besar mencapai magnitudo 6,5. Selain Indonesia, peringatan potensi gelombang tsunami akibat gempa ini sempat diterbitkan untuk wilayah Taiwan, Jepang, hingga Papua Nugini.

Di Indonesia, dampak kenaikan permukaan air laut sempat terdeteksi di beberapa muara dan sungai yang terhubung langsung ke laut di wilayah Kecamatan Kwandang serta Kecamatan Ponelo Kepulauan. Meski sempat terjadi fenomena air surut, petugas di lapangan memastikan situasi tetap aman terkendali tanpa adanya kerusakan fisik maupun korban jiwa.

"Alhamdulillah, peringatan tsunami sudah berakhir. Masyarakat yang sebelumnya mengungsi ke daerah yang lebih tinggi sudah bisa kembali ke rumah masing-masing," kata Moh Tahir Laendeng, Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Gorontalo, dilansir Antara.

BPBD Gorontalo sempat meminta masyarakat di wilayah pesisir dan bantaran sungai untuk mengungsi secara mandiri ke dataran tinggi sebagai langkah antisipasi awal.

"Memang ada beberapa titik yang sudah mulai ada perkembangan naik airnya, tetapi tidak signifikan. Kenaikannya masih bisa diantisipasi masyarakat dan belum berdampak ke pemukiman," ujar Moh Tahir Laendeng.

Pengukuran petugas di lapangan menunjukkan fluktuasi air laut pascapasang hanya mencapai ketinggian yang relatif rendah.

"Air laut yang awalnya surut, kemudian naik kembali, tetapi kenaikannya tidak signifikan. Paling sekitar 0,27 meter," kata Moh Tahir Laendeng.

Seluruh personel gabungan dari unsur BPBD, Basarnas, TNI, Polri, serta pemerintah daerah yang bersiaga di kawasan pesisir kini tetap mempertahankan posisi aman mereka guna mengantisipasi potensi kedaruratan lanjutan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author