BMKG Akhiri Peringatan Dini Tsunami Pasca Gempa Mindanao
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mengakhiri peringatan dini tsunami setelah gempa kuat mengguncang wilayah Mindanao, Filipina, pada Senin (8/6/2026) pagi. Pengakhiran status ini dilakukan setelah hasil observasi terbaru menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang membahayakan wilayah Indonesia.
Langkah penghentian peringatan dini ini dilansir dari Bloombergtechnoz dimaksudkan agar tim penyelamat dari berbagai instansi dapat segera bergerak di lapangan. Teuku Faisal menjelaskan bahwa penerbitan peringatan dini keempat ini menjadi penanda krusial agar unsur Basarnas, BPBD, BNPB, TNI, dan Polri dapat melaksanakan upaya penyelamatan yang diperlukan secara maksimal.
Hingga pukul 10.00 WIB, aktivitas seismik pascagempa utama masih terus terpantau tinggi oleh tim teknis. BMKG mencatat telah terjadi 20 gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo berkisar antara 3,9 hingga 6,7, termasuk dua gempa yang dilaporkan dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Dengan memperhatikan kondisi terkini terkait hasil observasi di beberapa wilayah yang terdampak, tidak ada lagi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan. Maka peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 10.15.51 WIB," kata Teuku Faisal dalam konferensi pers secara daring, Senin (8/6).
Sebelum keputusan tersebut diambil, BMKG telah mengeluarkan serangkaian peringatan secara bertahap sesuai standar operasional yang berlaku. Peringatan dini pertama berisi parameter awal gempa dirilis pada pukul 06.40.44 WIB, diikuti peringatan kedua untuk memperbarui parameter gempa pada pukul 06.51.26 WIB.
Data pemantauan alat pengukur pasang surut air laut juga sempat menunjukkan adanya pergerakan gelombang di beberapa titik wilayah Indonesia. Pada pembaruan pertama pukul 08.13.41 WIB, tsunami terdeteksi setinggi 9 sentimeter di Loloda, Maluku Utara, 18 sentimeter di Pulusiau, Sulawesi Utara, dan 32 sentimeter di Melonguane, Sulawesi Utara.
Gelombang pasang kemudian terpantau meluas di beberapa wilayah pesisir lainnya pada pembaruan pukul 08.34.52 WIB. BMKG mencatat tsunami setinggi 30 sentimeter di Tanuna, Kepulauan Sangihe, 45 sentimeter di Palele, Sulawesi Tengah, 32 sentimeter di Tanjung Sidupa, Sulawesi Utara, 29 sentimeter di Bitung, Sulawesi Utara, serta 14 sentimeter di Ternate, Maluku Utara, dengan ketinggian terbesar mencapai 75 sentimeter di Talengen, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
Guncangan utama di Filipina sendiri tercatat sangat kuat oleh lembaga seismologi internasional. Helmholtz Centre for Geosciences mencatat gempa berkekuatan magnitudo 8,1, sementara Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan magnitudo 7,8 dengan kedalaman 10 kilometer, yang sempat memicu alarm siaga di kawasan Pasifik termasuk Indonesia, Filipina, Palau, Taiwan, dan Papua Nugini.